Syariat dan Budaya Haruskah terpisah? Jadi Tema Diskusi ilmiah Santri Nusantara

""

“Wali songo iku wali tanah jowo *** Merjuangno agomo nuso lan bongso,
Pondok Ngalah ala Sunan Kali Jogo, ** Ngelestarekno agomo lewat budoyo”

 

DSC_0352 - Copy

Pantia Diskusi Ilmiah Santri Nusantata

Portal Arjuna Jatim-Dengan merenungi potongan Syair Kagem Romo Kyai diatas, tentu kita akan menyadari bahwa konsep Islam NUsantara bukan merupakan discovery. Karena sejak didirikan 1985 Pondok pesantren Ngalah telah mengimplementasikan konsep tersebut. Akan tetapi pertama kali istilah dan konsep ini dikenalkan adalah pada saat menjelang muktamar NU jombang jawa timur 2015 kemarin (Sindo:2015), impacnya tak heran polemic pro dan penolakan konsep yang diyakini ampuh menangkal radikalisme tersebut akhirnya menyita perhatian banyak orang termasuk Lukman Hakim Saifudin yang sangat mendukung terwujudnya islam nusantara, tidak tanggung menteri agama inipun juga di support oleh Presiden Jokowi dan Wakilnya (Nu.online.com;15), serta sebagian besar kalangan Aktivis NU. Dari sudut pandang lain banyak pula Tokoh-Tokoh yang secara terbuka menentang akan konsep ini, salah satunya adalah ketua FPI Habeb Rezeiq, Mama dedeh dai kondang TV, (eramuslim.com: 2015)bahkan dari kubuh NU pun ada yang tak merestui dengan islam nusantara (Arrahmah.com 2015) yang dijadikan tema besar muktamar NU ke 33 tersebut.
Salah satu tokoh NU yang getol mengejawantahkannya adalah Ketua Umum PBNU menurutnya istilah Islam NUsantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebutnya, Dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras, Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya, Dari pijakan sejarah itulah, menurutnya, NU akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran. (Said:2015)
Namun kontruksi devinisi itupun dibantah oleh Dr. Tiar Anwar Bahtiar ahli sejarahindonesia, bahwa apabila yang dimaksud, Islam Nusantara‘ adalah seperti yang disampaikan oleh Said Agil Siradj, yaitu Islam yang menjadikan ―budaya sebagai landasan dalam beragama, bukan menghilangkannya, maka pernyataan ini sesungguhnya tidak berisi sama sekali. Budaya ini sejatinya adalah sesuatu yang sifatnya dinamis, tidak statis. Apa yang dimaksud ―merangkul budaya dalam definisi Said Agil Siradj? Apakah yang dimaksud adalah baca Al-Quran dengan lagu Dandanggula? Sholat mengenakan sarung, bukan gamis? Memakai kopiah, bukan serban? Atau bagaimana? Ketika Islam datang ke suatu tempat yang dibawa adalah ajaran. Ajaran Islam itu tidak mewujud pada budaya, tapi pada teks ilahiah yang abadi, yaitu Al- Quran dan Sunnah. Coba lihat namanya sendiri dari bahasa arab, Nahdatul Ulama juga arab (Tiar 2015).
(Komarudin Hidayat: 2015) menegaskan kembali dengan merujuk pada sejarah penyebaran islam nusantara bahwa, peran para Wali Songo memang sangat fenomenal. Mereka melakukannya dengan cara damai dan memanfaatkan simbol- simbol budaya lokal sebagai mediumnya agar mudah dipahami dan diterima warga setempat. Misalnya saja medium wayang, permainan, dan tembang-tembang yang semuanya itu tidak ditemukan dalam masyarakat Arab. Bukannya ajaran dasar Islam yang diubah, melainkan metode yang disertai kontekstualisasi tafsirnya sesuai dengan budaya Nusantara sebagai masyarakat maritim dan agraris. Bukan penduduk padang pasir seperti di Arab. Fikih atau paham keberagaman yang tumbuh dalam masyarakat padang pasir dan bangsa maritim serta pertanian yang hidup damai, jauh dari suasana konflik dan perang, memerlukan tafsir ulang. Misalnya saja relasi gender. Di Nusantara ini, di beberapa daerah para wanitanya sudah biasa aktif bertani di sawah untuk membantu ekonomi keluarga. Mereka sulit disuruh mengganti pakaian adatnya dengan pakaian model wanita Arab Demikianlah masih banyak tradisi lokal baik itu datang dari budaya Arab maupun Nusantara yang telah menjadi medium untuk menyampaikan agama, sehingga kita dapat membedakan mana elemen agama dan mana elemen budaya. (Muslim:2016)
Menaggapi hal tersebut (KH Soleh Bahrudin: 2016) turut berkontribusi pemikiran mengingat tak sedikit penyakit paham salah tentang Syariat Dan Budaya, maka beliaupun menyampaikan bahwa Islam NUsantara/ islam ala NU rujukannya ke- Wali Songo yakni bersikap santun, tidak memukul tapi merangkul, mengajak tidak mengejek, mencari kawan tidak mencari lawan, membina tidak menghina, memberi tidak membenci karena perilaku ini merupakan metode Wali Songo, ada beberapa karakter kekhasanya. Diantaranya Masjid/Musholanya beratap joglo, yang dilengkapi kentongan jidor, dan saat melaksanakan jum’atan adzannya 2 kali, serta khotib membawa tongkat tetkala kutbah, mengamalkan wiridan, dan masih banyak budaya lainnya termasuk memakai sarung ,celana, kopyah hitam dan berengos, sedangkan jubah masjid berkubah, jenggot, kopyah putih merupakan contoh budaya islam timur tengah, bukan syariat, baru kalau aurat laki-laki antara udel dan dengkul itu namanya syariat, adapun pakaian adalah budaya biar tidak bodoh.
Dari sinilah gagasan Diskusi Ilmiah Santri Nusantara dicetuskan dengan mengusung tema Syariat dan budaya haruskah terpisah? Oleh Forum Kajian Mu’alimin-Mualimat kamis 3Maret 2016 mendatang. Mengingat paham ideologi yang ingin memaksakan arabisasi Islam Indonesia telah bergerak dengan dalih hadist Nabi yang mereka klim sebagai refrensi yang shohe (Sucipto:2016). Maka beban moral kami sebagai kader Pengasuh yang merestui Islam NUsantara, jika tidak mengkaji dan menyeimbangi paham radikalisme tersebut dengan kaidah dan tendensi yang shohe pula. Semoga kegiatannya sukses dan berhikmah, mohon doa restu semua stakeholder. Salam Santri Nusantara… (mus)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.