PERAYAAN TAHUN BARU DI PESANTREN

""

Malam tahun baru merupakan moment tahunan yang dinantikan-nantikan oleh semua kalangan, terutama kaum remaja. tak sedikit cara yang dapat diimplemantasikan dalam merayakan malam pergantian tahun, misalnya dengan memberi ucapan happy new year, Pesta Kembang Api, meniup terompet, bahkan adapula yang merayakan dengan berduaan lawan jenis (pacaran), dan tidak menuntut kemungkinan ada yang merayakan dengan minum-minuman keras, pesta narkoba dll.

Globalisasi mengubah segalanya, termasuk santri (orang atau peserta didik yang bermukim; menuntut ilmu di pesantren) yang rutinitas hariannya mengaji dan mengkaji kitab klasikpun tak ingin ketinggalan dengan teman sebayanya yang tengah asyik bergembira merayakan malam pergantian tahun. Meski kegiatannya terbilang sangat sederhana dan apa kadarnya, seperti masak bersama satu kamar, begadang,ngopi hingga terbit fajar, melihat hujan kembang api. Hal ini bukan menjadi persolan untuk absen dari rutinitas tahunan ini. seperti yang terjadi di kalangan santri pondok pesantren ngalah pada beberapa tahun silam. Bahkan sebagian dari mereka ada yang relah bersusah paya naik ke Atap “Genting” Dapur Asrama untuk sekedar melihat kemilaun langit yang dihujani kembang api.

Meninjak lanjuti pengalaman tersebut, ditahun baru berikutnya. Pesantren memberikan ruang bagi para santri untuk dapat merayakan dengan NOBAR nonton bareng, yang diselingi dengan penyumetan kembang api. Mungkin ini merupakan bentuk perihatin pengurus akan kebutuhan santri dewasa ini.

Dan di tahun baru yang sekarang tahun 2012, di tempat kita menuntut ilmu ini, di adakan acara yang cukup menghibur dan mengugah hati para teman-teman santri khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya, yaitu deklarasi persatuan pencak silat darut taqwa, yang di hibur dengan atraksi dari para pendekar baik dari aliran SH, pagar nusa, cimande, dll. Dan ikut memeriahkan pula yaitu tarian jaran kepang (kuda lumping) beserta reog ponorogo dari desa gerbo-purwodadi-pasuruan.

Acara yang bertema, semarak tahun baru 2012, gelar budaya bersama masyarakat di pondokpesantren ngalah, ini merupakan perdana di adakan fi ma’hadinaa, meskipun cuaca tak bersahabat waktu itu, hujan mengguyuh lokasi pagelaran, hal ini tak menghilangkan antusias para hadirin terutama kaum konserfatif (tua). apalagi ketika di mulainya acara penampilan kuda lumping dan reog ponorogo yang di sertai gending-gendingan (musik) plus sindennya, tapi rasa kecil hati terlihat dari audien, saat di umumkan bahwa tarian khas reog ponorogo tak dapat di tampilkan, sebab hujan yang tak henti-henti itu.

Tags:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.