Model Mahasiswa Kampus Merah

""

img_1931Portal Arjuna Jatim-Mahasiswa merupakan seseorang yang terdaftar disuatu perguruan tinggi pada semester berjalan yang dapat pula diartikan secara filosofis sebagai seseorang yang mencari tahu tentang kebenaran dan berusaha mewujudkan kebenaran tersebut.(Rahmat;2011). Sedangkan menurut Sumarno;1989 dalam bukunya dimensi-dimensi komunikasi politik, menyebutkan bahwa mahasiswa bukan merupakan kelompok interest, karena aktivitas mereka dalam kegiatan infrastruktur hanya dilandasi oleh nilai ilmu yang memandang suatu keadaan dilihat dari ‘Das Sollen’ dan ‘Das Sein’-nya sehingga apa yang dilakukan masih bersifat murni dan belum diwarnai oleh suatu pandangan, faham atau ideology tertentu, kecuali yang telah terjun dalam politik praktis. Hal ini Ia kemukakan dalam bukunya bertujuan untuk memandang nilai-nilai yang dimiliki mahasiswa akan sifat netral dan objektifnya terhadap suatu keadaan.

Karena itu, sangat perlu penulis tegaskan bahwa tugas utama Mahasiswa bukan lain adalah kuliah atau belajar. Akan tetapi apakah sekedar itu saja yang kita lakukan jika bergelar mahasiswa. Sebagai mahasiswa sebenarnya kita juga mempunyai tiga peran penting yakni sebagai agen perubahan, sebagai iron stock dan sebagai agen social control. Mahasiswa sangat diperlukan untuk mengontrol kebijakan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Begitu ada kebijakan yang menyimpang, maka sebagai mahasiswa kita harus mengkritisi kebijakan tersebut. Dengan kata lain, mahasiswa harus bisa menjadi agen perubahan dari kebijakan yang menyimpang tersebut. Nah, disinilah menurut penulis dibutuhkan peran Pergerakan Mahasiswa.

Melihat kondisi tersebut kita dapat membedahkan varian mahasiswa menjadi beberapa model diantaranya yaitu:
1. Model Akademik : Mahasiswa yang hanya memfokuskan diri pada kegiatan akademik dan cenderung apatis terhadap kegiatan kemahasiswaan dan kondisi masyarakat.
2. Model Organisatoris : Mahasiswa yang memfokuskan diri pada kelembagaan baik didalam maupun diluar kampus, peka terhadap kondisi sosial dan cenderung tidak mengkonsentrasikan diri pada kegiatan akademik.
3. Model Hedonis : Mahasiswa selalu mengikuti trend dan mode tapi cenderung apatis terhadap kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
4. Model Aktivis Mahasiswa : Mahasiswa yang memfokuskan diri pada kegiatan akademik kemudian berusaha mentrasformasikan “kebenaran ilmiah” yang didapatkan ke masyarakat melalui lembaga dan sebagainya dan berusaha memperjuangkannya.

Dengan mengetahui model mahasiswa diatas tentu kita dapat meraba pribadi masing-masing termasuk golongan/model yang mana?, yang jelas kita tidak perlu mengklaim bahwa yang terbaik adalah model 1, model 4 dan sebagainya. melainkan kita harus bisa menebarkan sikap toleransi. Terlebih di kampus merah Universitas Yudharta Pasuruan yang mempunyai brand image sebagai The Multicultural University tentu sangat positif jika tak sedikit varian budaya yang terus dilestarikan. Namun ada satu hal yang ingin penulis tanyakan kepada RM Yudharta, yakni ditengah berbagai model perayaan civil liberty yang dilakukan oleh segenap elit bangsa, dalam menyambut kejatuhan regim otoriterianisme soeharto, dengan cara pesta pora mendirikan puluhan partai politik.Yang diikuti oleh terlepasnya mahasiswa dari Pembelengguan kemerdekaan mahasiswa melalui NKK/BKK sejak kesuksesan Aksi Reformasi 1998, dengan mengorbankan beberapa mahasiswa Tris Sakti dan Tragedi Semangi. kemudian terdeklarasikannya Negara demokrasi hingga menelurkan PEMILU secara langsung dengan melibatkan partisipasi seluruh komponen masyarakat dalam mewujudkan Civil Society/Negara Madani. singkatnya pertanyaannya adalah apakah keempat model mahasiswa diatas semua tercover sebagai society dalam Republik Mahasiswa Yudharta? Ataukah RM UYP hanya untuk model 2 saja atau bagaimana? Seandainya jawabannya adalah RM dideklarasikan sebagai sebuah institusi kelembagaan yang menaungi seluruh stabilitas kemahasiswaan di lingkungan Universitas Yudharta Pasuruan maka adakah HAK SUARA memilih Calon Ketua MPM dan Presma bagi keseluruan mahasiswa UYP? Lalu bagaimana RM mendevinisikan Demokrasi dan civil society, masyarkat madani jika membatasi HAK PEMILIH dalam menentukan pemimpin legislatif dan eksekutif Republik Mahasiswa?.

One Response

  1. Anonim 17 September 2016

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.