Berkunjung ke Makam Ratu Dewi Sekardadu, Salah Satu Makam Wali di Selat Madura.

""

PortalArjuna.net- Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenang jasa para pahlawannya, hal itu tentu sering kita dengar dari guru – guru kita. Walaupun bukan seorang pejuang yang merebut kemerdekaan seseorang yang berjihad di jalan yang benar juga termasuk pahlawan seperti para wali yang menegakkan agama islam.

Para wali yang terkenal adalah wali sanga yang tersebar di pulau jawa. Wali-wali tersebut antara lain adalah, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Bonang dll. Akan tetapi bukan cuma para wali sanga saja yang harus kita kenal tetapi juga keluarga beliau seperti kata pepatah bahwa buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya salah satunya adalah sunan giri yang memiliki nama Raden Paku atau Joko Samudra yang merupakan putra dari Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu.

Maulana Ishaq adalah seorang mubaliq yang datang dari daerah timur tengah untuk menyebarkan agama Islam sedangkan ibundanya adalah seorang putri dari penguasa daerah Blambangan Menak Sembayu, konon pada masa itu daerah Blambangan diserang wabah mengerikan dan Dewi Sekardadu terjangkit penyakit yang sama, akhirnya ayahandanya mengadakan saimbara bahwa siapa saja yang dapat menyembuhkan putrinya maka akan dinikahkan dengan sang putri banyak yang mencoba dan tidak berhasil akhirnya datang seorang pengelana bernama Maulana Ishaq, beliau berhasil menyembuhkan penyakit dewi sekardadu dan menikahi beliau, akan tetapi Karena tidak suka dengan agama yang dibawa oleh Maulana Ishaq, Menak Sembayu mengusir beliau dari blambangan dan meninggalkan Dewi Sekardadu yang saat tengah hamil.

Setelah beberapa waktu Dewi Sekardadu melahirkan seorang putra yang bernama Raden Paku, Karena takut cucunya akan membawa agama baru dan menghilangkan agama nenek moyangnya Menak Sembayu memutuskan membuang Raden Paku yang masih bayi ke Samudra. Tak kuasa melihat anaknya dibuang Dewi Sekardadu ikut terjun ke Samudra dan meninggal. Banyak versi dari kematian beliau salah satunya adalah ketika beliau mencoba menyelamatkan anaknya yang terombang-ambing dilaut tetapi gagal dan meninggal kemudian jasad beliau terhanyut hingga ke selat Madura, disitu sebuah keajaiban terjadi, jasad Dewi Sekardadu dibawah oleh puluhan ikan Keting menuju daratan, tepatnya di sebuah desa yang bernama Kepetingan, Sidoarjo. Dan disitulah beliau dimakamkan.

Ada tradisi bagi sebagian masyarakat yang bernama (Nyadran;red) dimana hal ini dilakukan pada bulan jawa yaitu Ruwah. Acara yang dilakukan adalah nyekar ke makam Dewi Sekardadu. Untuk bisa sampai ke tujuan, masyarakat harus menaiki perahu-perahu nelayan dan menyusuri sungai yang mengarah ke selat Madura.

Untuk sampai disana butuh waktu sekitar setengah hingga satu jam perjalanan, selama perjalanan kita akan disuguhi dengan pemandangan pohon-pohon bakau yang rimbun dan juga hewan-hewan yang menghuni di sekitarnya.

setelah sekian lama kita akan sampai di gerbang masuk menuju makam, berbeda dengan makam-makam wali biasanya yang dihiasi ornamen antik, disana kita hanya akan melihat batu yang tersusun rapi dan anak sungai menuju tempat makam.

 

Makam beliau tidak semegah makam-makam lain hanya ada satu mushalla kecil dan makam Dewi Sekardadu, selain itu kita akan kesulitan mendapatkan air untuk bersuci dikarenakan sedikitnya air tawar,kemudian disekitar makam akan kita jumpai banyak tambak-tambak ikan yang tersebar. Selain bulan Ruwah memang sangat sedikit pengunjung yang datang, hal ini Karena faktor transportasi dan kurangnya pengetahuan mengenai adanya makam Dewi Sekardadu di masyarakat umum, semoga hal ini dapat segera teratasi dan kita dapat berkunjung ke salah satu wali agung tersebut.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.