Industri perfilman Indonesia, Krisis Penulis Skenario

""

Portalarjuna.net-Industri perfilman Indonesia terus meningkatkan progress produktivitasnya. Genre-genre fim yang muncul pun semakin beragam. Film bergenre drama romantic atau komedi tetap ada dan diminati meski genre yang lain seperti horror, laga hingga biopic juga mulai dilirik oleh para sineas muda.
Kendati demikian, dibalik segala kemajuan dan iklim industry perfilman yang semakin kondusif, ada beberapa masalah yang masih kerap menjadi sorotan. Salah satu permasalahan tersebut adalah minimnya penulis scenario film muda.
Indonesia memiliki banyak penulis muda. Kebanyakan lebih suka menulis novel fiktif. Indonesia juga memiliki banyak komunitas teater yang kebanyakan suka menulis naskah. Sementara itu, Indonesia memiliki krisis penulis scenario film yang baik. Banyaknya penulis yang ada tersebut sama sekali belum tergugah untuk beralih menjadi seorang penulis scenario film.
“Seorang penulis scenario film sangat jarang terlibat dalam proses produksi perfilman. Penulisan scenario film adalah sebuah proses yang internal dan merupakan posisi yang penting di balik layar” ungkap Sutradara Film Aman Sugandhi dalam acara workshop skenario film pada Festival Literasi Surabaya kemarin (15/12).
“Ada kalanya sebuah skenario film yang baik, dalam proses produksinya kurang maksimal. Ada cacat dan perubahan disana sini. Bahkan dalam beberapa kasus, mereka lupa melakukan promosi sehingga gagal menarik perhatian penonton. Akibatnya, biaya produksi film yang begitu mahal tidak dapat tertutupi, dan mengalami kerugian. Hal itulah yang seringkali membuat para sineas muda merasa kapok dan enggan melakukan produksi lagi” tambahnya.
Banyak ide kreatif yang tidak dapat dieksekusi dengan sempurna. Baik itu dari segi penulisan skenario hingga proses produksinya. Bicara tentang kualitas, sebagian masyarakat Indonesia masih memandang karya anak negeri dengan sebelah mata. Mereka menjadikan film luar negeri sebagai pembanding. Contohnya saja pemutaran film biopic wage karya Indonesia yang tidak berhasil bertahan dalam pemutaran bioskop Indonesia meski hanya satu minggu. Film tersebut kalah peminat dengan film Hollywood yang ditayangkan bersamaan pada waktu itu. Film wage hanya mendapatkan 200.000 penonton sementara pesaingnya mendapatkan oplah sebanyak lebih dari 2 juta penonton.
“Harapan saya, Masyarakat Indonesia semakin gemar menulis dan membaca. Agar ide-ide yang baru dapat terus bermunculan dan menghasilkan sebuah kejernihan cerita layak konsumsi public. Tulis apa saja, mulai dari cerita pribadi hingga apapun yang terlihat. Hal itu akan mengasah kemampuan menulis kita” ungkapnya.

Selain melakukan nobar film-film pendek di sela kegiatan sharing workshop penulisan skenario film tersebut, Aman sugandi seorang sutradara film yang berperan sebagai narasumber dalam acara tak lupa untuk memberikan briefing kepada seluruh peserta untuk berlatih membuat sinopsis yang baik agar dapat dilirik oleh seorang produser film. Setiap peserta diminta membuat sebuah sinopsis film dan mendapatkan komentar langsung dari beliau.

(Dianis)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.