Mendidik Santri di Tengah Bisnis Prostitusi

""

Portalarjuna.net- Hujan rintik-rintik kota tretes tak menghalangi semangat tim portal arjuna. Kami berjalan menelusuri kota Tretes yang terkenal sebagai salah satu tempat ‘lokalisasi prostitusi” di daerah Pasuruan. Tujuan kami mencari lembaga Madrasah Diniyah yang ada di sekitar Tretes.

Tepat pukul 14.00 sampailah kami di rumah bapak Hj. Utoyo tepatnya di Lingkungan Pesanggrahan Tretes. Beliau sendiri merupakan  seorang pejabat pemerintah Kota Pasuruan yang selama ini telah berusaha mempelopori adanya pendidikan Alqur’an di daerah tersebut.

“Pendidikan Alqur’an disini sebenarnya sudah lama. Kakek saya Bpk Kusmosari merupakan seorang penggerak kegiatan social yang dari dulu sudah berusaha mendirikan lembaga-lembaga social seperti Denas, les menjahit, mengaji dan sebagainya” ujar Bapak Ahmad Zainul Umam, menantu dari bapak Haji Utoyo yang menyambut kedatangan kami siang itu.

Usaha tersebut bukan berarti tak menemukan banyak rintangan, seringkali kegiatan-kegiatan social tersebut terhenti di tengah jalan dan kemudian mati. Begitu halnya dengan lembaga pendidikan Alqur’an disana.

Kini, Bapak Ahmad Zainul Umam bersama istrinya tengah berusaha mendirikan dan menghidupkan kembali pembelajaran Alqur’an yang sempat mati disana. Beliau bersama istrinya mendaftarkan Madin Al’Ulya yang baru dirintis selama 2 tahun ini kepada Departemen Kementreian Agama agar segera  mendapatkan ijin dan segera diresmikan.

Kepada kami, Bapak Zen sapaan akrab lelaki tersebut  menuturkan “Alhamdulillah sejauh ini tidak ada tantangan yang berarti ketika kami menjalankan kegiatan ini. Wali Santri dari anak-anak tersebut meskipun ada dari mereka yang juga pelaku bisnis/mafia prostitusi juga terkesan mendukung kegiatan kami. Belum ada kendala yang berarti karena kami masih bersinggungan dengan para peserta didik saja, tidak menyentuh kehidupan pribadi mereka para orang tua”

“Berbeda sekali dengan peristiwa yang pernah tejadi beberapa waktu silam. Saat itu saya masih kecil, Rumah saya dan keluarga hampir saja di bakar oleh para warga yang notabenenya merupakan pelaku/mafia prostitusi. Rumah kami disiram minyak gas. Mobil kami digulingkan sampai rusak parah. Dan kami didemo serta dihujat habis-habisan. Untungnya polisi segera datang sehingga rumah kami tidak sampai terbakar” ujar istrinya menambahkan.

Hal ini terjadi karena masyarakat tidak terima dengan metode dakwah yang diberlakukan saat itu. Terkesan keras karena Bapak Hj Utoyo sendiri merupakan salah satu angggota dari sebuah ormas islam beraliran keras. Selain itu, mereka para pelaku bisnis prostitusi merasa mata pencaharian mereka akan hilang jika aktivitas pengajian terus dilakukan. Sekarang, pasangan suami istri tersebut mencoba melakukan dakwah tersebut dengan cara yang lebih halus dan moderat.

“kami berusaha merangkul para peserta didik agar mereka tidak sampai salah jalan/perg aulan. Seringkali mereka curhat tentang kehidupan pribadi mereka. Target kami adalah memperbaiki akhlak. Harapannya kami dapat mengubah pandangan masyarakat luar terhadap Desa Tretes ini berbanding 180 derajat dengan menciptakan generasi penerus yang paham agama dan berakhlakul karimah. PR kami adalah membentuk akhlaknya peserta didik” ujar istrinya.

Mereka mengaku harus berusaha dan bekerja keras untuk menarik mereka terus mau mengaji. Pasalnya, banyak diantara mereka yang setelah 3 tahun mengaji kemudian lepas dan menjadi anak-anak ‘reggae’ mengamen dan nongkrong di pinggir jalan. Uniknya, mereka memiliki semangat ngaji yang tinggi namun dalam kesehariannya akhlak mereka tidak terbentuk. Mereka mau mengaji, mengerti agama tapi tetap suka nongkrong di pinggir jalan menggunakan peci dan sarung bersama para perempuan. Nongkrong di rumah teman perempuan hingga malam hingga menggunakan pil, miras dan obat-obatan. Untuk itu, mereka membuat inisiatif untuk menjadikan mereka para santri yang sudah lama belajarnya untuk mengajar juga kepada adik-adiknya yang lebih kecil.

“Kami memotivasi mereka untuk mengamalkan ilmunya, sebagai bentuk amal jariyah mereka nanti. Tidak haus mengerrti kitab dan hafal alquran untuk mengajar. Jika bisanya alif dan ba’ ya silahkan tolong diajarkan dan diamalkan”

Hingga saat ini, Madin Al’Ulya memiliki 80 peserta didik yang dibedakan atas 3 kelas utama dengan 6 tenaga pengajar. Kelas putri dan putra dibedakan. Uniknya, setiap hari Jum’at mereka mengadakan kegiatan ‘ngaji keliling’ di rumah-rumah para peserta didik. Alhasil, mereka pun mengaji di rumah-rumah yang biasa dijadikan villa atau tempat prostitusi itu sendiri. Hal ini pun menjadi pemandangan yang aneh bagi para masyarakat. Mereka mengaji di tengah-tengah lokalisasi prostitusi dengan penerangan lampu disko. Terkadang, para pelaku prostitusi ini pun  tak sungkan-sungkan lewat di tengah-tengah tempat mereka mengaji untuk menjalankan aktivitasnya di kamar-kamar yang telah disediakan pemilik villa. (tim 1)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.