KKN TOSARI 1 UYP LAKUKAN PARTISIPASI “RITUAL KUNINGAN” UMMAT HINDU TENGGER SEBAGAI BENTUK TOLERANSI BERAGAMA

""

PortalArjuna.net/04/08/19-Terdapat banyak bentuk khazanah toleransi yang dapat dilakukan sebagai bentuk manifestasi menjalankan kehidupan harmonis dalam kehidupan yang heterogen. Salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah dengan melakukan kegiatan sosial keagamaan oleh beberapa anggota KKN Tosari 1, yakni turut serta menghadiri ritual keagamaan ummat hindu yang sering disebut “ritual kuningan”.

Ritual kuningan yang dilakukan oleh hampir seluruh ummat hindu di kawasan Tosari digelar pada Sabtu, 03 Agustus 2019. Pelaksanaan ritual kuningan ini dilakukan pada setiap pura atau tempat ibadah yang tersebar di beberapa daerah tersebut, lalu dilanjutkan dengan upacara besar yang dihelat di pura pusat pada area gunung bromo. Pada pelaksanaan di pura bromo, lingkup jamaah yang turut hadir lebih luas karena merupakan integrasi dari jamaat Malang, Probolinggo, Pasuruan, dan Lumajang.

Kuningan dipercaya masyarakat hindu sebagai bentuk persembahan atas rasa syukur dan penghormatan yang ditujukan kepada Sang Hyang Widhi. Didalamnya terdapat beberapa filosofi yang dipercaya masyarakat sebagai suatu pakem yang berasal dari ajaran tuhan. Dalam kebiasaan adat hindu, kuningan merupakan salah satu rangkaian ritual keagamaan Galungan yang bentuk dan tujuannya hampir sama. Menurut penuturan pengurus Pura, Sembahyang tidak diperkenankan dilakukan melewati jam 12 siang.

“ Sembahyang kuningan tidak boleh dilakukan melebihi jam 12 siang, karena pada saat itu sang hyang widhi memberi karunia sinar matahari yang baik dan menyehatkan. Sebaliknya setelah jam 12, sinar matahari beruah menjadi jahat dan menjadi simbol kehancuran bagi manusia ”. Jelas Raha, dalam penutupan ritual kuningan tersebut.

Para anggota KKN Tosari 1 mengaku antusias dalam mengikuti rangkaian ritual yang mereka ikuti tersebut. Salah satunya mengaku mendapat arti dan pengalaman nyata dalam memahami dan mengamalkan toleransi. “ dengan turut andil dalam perayaan sembahyang ritual kuningan ini, seperti sedang merasakan arti sebenarnya dari kata toleransi yang selama ini kami pelajari. Sebuah pengalaman yang mungkin tidak bisa didapatkan kedua kalinya. Tanggapan masyarakat juga begitu hangat kami rasakan, speecheless ” ungkap Nicky, salah satu anggota yang turut andil dalam perhelatan tersebut. (Nic)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.