GULA JAWA KEDIRI YANG TAK PERNAH MATI

""

PortalArjuna.Net Kediri – Gula Jawa atau juga biasa disebut Gula Merah mempunyai berbagai bahan baku, ada yang berasal dari pohon aren, pohon kelapa dan tebu. Kediri dan sekitarnya terkenal sebagai sentra penghasil tebu sejak jaman Hindia Belanda. Para investorlah yang datang mendirikan pabrik gula dan memperkenalkan cara menanam tebu dengan teknologi lebih maju, lengkap dengan pembangunan jaringan irigasinya. Sebagian besar investor asing itu datang dari Eropa tapi juga tak sedikit, utamanya di Jawa Tengah investor dari Tiongkok.

Dalam Perang Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun, walaupun keluar menjadi pemenang, perang besar ini mengakibatkan ludesnya keuangan pemerintah Hindia Belanda. Wilayah Kediri diserahkan oleh Kerajaan Mataram kepada Hindia Belanda sebagai kompensasi atas kemenanganya pada tahun 1930. Kemudian dibentuklah wilayah Karesidenan Kediri yang dikepalai oleh seorang Residen. Sejak inilah berdatangan para investor, utamanya dari Eropa menanamkan modalnya di Karesidenan Kediri yang meliputi daerah Kediri, Nganjuk (Berbek), Blitar dan Tulungagung.

Salah satu yang diminati para investor tersebut adalah perkebunan tebu lengkap dengan pabrik gulanya. Bertaburanlah pabrik-pabrik gula (PG) di Karesidenan Kediri, seperti PG Meritjan, PG Pesantren, PG Ngadiredjo, PG Minggiran, PG Menang, PG Bogokidoel, PG Kawarasan, PG Tegowangi, PG Kentjong, PG Badas, PG Purwoasri, PG Sumberdadi, PG Koenir, PG Modjopanggoeng, PG Lestari, PG Djoewono, PG Djati, PG Nganjuk, PG Baron, PG Kujonmanis. Saat ini yang masih aktif berproduksi tinggal PG Meritjan, PG Pesantren (Baru), PG Ngadiredjo, PG Modjopanggoeng dan PG Lestari.

Namun pada tanggal 22 Agustus 2019 telah resmi beroperasi PG Rejoso Manis Indo (RMI) yang dibangun di atas lahan seluas 19 hektar, berlokasi di Dusun Betek, Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar. Pabrik gula ini sudah menggunakan mesin mutakhir dengan kapasitas besar hingga 5.151 ton gula kristal putih per musim giling.

Latar belakang kisah di atas menyebabkan gula jawa di Kediri juga berbahan baku tebu. Salah satunya adalah milik Suliono di Dukuh Kidul, Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.

Menempati pekarangan belakang rumahnya, pak Suliono memulai usaha “pabrik” gula jawa ini pada tahun 1995. Minat untuk berbisnis gula jawa ini disebabkan ayah dan dua orang kakaknya juga usaha gilingan gula jawa. Berbekal pengalaman keluarga inilah, maka keberanian itu muncul dan bertahan sampai sekarang.

Tahap pertama tebu digiling menggunakan mekanik yang digerakkan oleh motor bertenaga listrik. Cairan hasil pemerasan ini disebut badek. Badek ini kemudian direbus dengan menggunakan bahan bakar ampas tebu. Hasil rebusan ini disebut kelang. Ketika kelang ini sudah agak kental disebut glali. Glali inilah yang terus-menerus diaduk dalam kondisi sangat panas sehingga semakin kental dan terjadi perubahan warna. Baru kemudian dimasukkan ke batok-batok tempurung kelapa yang berfungsi sebagai alat cetaknya.

Jika kelang itu berwarna terlalu hitam yang disebabkan jenis tebu yang digiling, jika diperlukan sesuai pesanan akan ditambahkan soda kue yang akan membuat gula jawa menjadi berwarna coklat muda. ”Untuk yang digunakan sebagai bahan baku kecap, gulanya tidak harus berwarna coklat muda,” kata Suliono menjelaskan. Kualitas tebu sebagai bahan baku, tentu saja sangat berpengaruh terhadap produk gula jawa. Tebu terbaik untuk bahan baku gula adalah Tebu Hijau 62. “Tebu 62 ini punya kadar gula yang tinggi dibandingkan jenis tebu lainnya, sehingga per kuintal rata-rata bisa menghasilkan 12 kilogram gula jawa”, kata Suliono.

Kendala produksi gula jawa adalah ketika musim hujan. Pada musim ini jarang ada tebu yang berkualitas bagus, sehingga kapasitas produksi menurun pada akhirnya kesulitan memenuhi permintaan pasar. Secara umum produksi gula jawa tidak ada matinya, bahkan pria berusia 62 tahun ini sangat optimistis dengan usaha industri kecilnya yang sudah ditekuni selama 25 tahun ini. Berbagai gula olahan dengan bahan baku gula jawa semakin bervariasi, misalnya gula semut atau juga disebut gula kristal.

Belum lagi makanan yang menggunakan gula jawa sebagai salah satu bahan baku utamanya, seperti kecap, sambel pecel, kue-kue tradisional, sebagai campuran kopi. Bahkan gula aren yang beredar saat ini, sebenarnya adalah campuran gula aren dan gula jawa berbahan baku tebu. “Disebabkan makin berkurangnya jumlah pohon aren, maka gula aren hanya digunakan sebagai pencipta rasa saja,” kata Suliono di penghujung perbincangan.

Sebuah artikel berjudul Manfaat Gula Jawa, Si Manis yang Menyehatkan, ditulis oleh Novita Joseph dan dimuat di hallosehat.com pada tanggal 22 September 2020, seakan mempertegas dominasi gula jawa sebagai salah satu unsur kuliner yang menjanjikan. Disebut oleh Novita Joseph bahwa, setiap pemanis yang diserap tubuh pastinya memiliki indeks glikemik. Indeks glikemik adalah skala untuk mengukur seberapa cepat karbohidrat yang dikonsumsi meningkatkan glukosa dalam darah Anda. Makanan yang indeks glikemiknya tinggi akan berdampak lebih besar pada meningkatnya gula darah.

Rentang skala yang digunakan untuk mengukur indeks glikemik adalah 1-100. Indeks yang berada di bawah 55 dianggap tidak begitu memengaruhi gula darah tubuh, namun jika lebih tinggi kemungkinan lebih tidak sehat. Mengenai indeks glikemik gula jawa, seperti dilansir dari Philippine Food and Nutrition Research Institute menemukan, gula kelapa merah atau gula jawa memiliki indeks glikemik rendah sebesar 35. Penelitian ini dilakukan pada 10 orang responden. Hampir dua kali berbeda dengan nilai indeks glikemik gula pasir yaitu 64, yang berarti mendekati indeks glikemik tinggi, yaitu di atas 70.

Selain nilai indeks glikemik yang rendah, gula merah kelapa juga mengandung sejumlah zat gizi yang tidak terdapat atau sangat sedikit terdapat dalam gula pasir. Gula merah kelapa juga mengandung sejumlah asam amino dan vitamin. Jadi, lebih aman dan bermanfaat gula jawa dibandingkan gula pasir.

Gula jawa rasane legi (manis), kata Koes Plus dalam lagunya yang berjudul Tul Jaenak. Manisnya gula jawa ini tampaknya akan bertahan sangat lama, bahkan akan berkembang semakin mantap di masa depan. Rasa manisnya yang khas, bisa jadi akan menjadikannya unsur kuliner yang menunjang berbagai menu lezat yang mampu menggoyang lidah dunia.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.