Inspirator Muda : Seniman Lukis Grafir Cendono

""

Pada Umumnya para seniman lukis menuangkan ide serta hasil karya mereka di atas kain kanvas. Namun berbeda dengan Mas Dion Murdiono yang melukis menggunakan media batu granit.

Pria kelahiran Semarang, Jateng, yang kini tinggal di Desa Cendono tersebut sejak SD memang sudah gemar menggambar. Selepas lulus SMK/STM, dia merantau ke Surabaya. Semenjak itulah dia menjadi pelukis profesional.

Mas Dion Murdiono mengaku, telah gemar melukis sejak dirinya masih di bangku SD. Dari hobi menggambar seadanya, hingga ia berminat lebih untuk menggali potensi dirinya dibidang seni lukis tersebut.

Dengan sentuhan tangannya, sebuah batu granit yang permukaannya berwarna hitam mengkilat dan berbentuk persegi empat, begitu indah disulap menjadi lukisan. Objek berupa foto Close Up di sulap, sangat mirip dengan wajah orang aslinya.

Untuk lukisan grafir potret granit yang ia buat menggunakan alat berupa batangan baja yang di lancipkan. Saat ini peralatan yang dimilikinya lebih ter-upgrade, selain dengan alat manual buatan, ia juga memanfaatkan alat bor mini dengan bermacam -macam mata bornya.

Bahan baku batu granit, ia beli dari pabrik yang ada di Kabupaten Mojokerto. Saat membeli batunya masih berupa lembaran. Sesampainya di rumah, granit itu dipotong-potong dibentuk ukuran yang sesuai diinginkan. Ia juga menerima pesanan jasa gambarnya saja, maksudnya pembeli menyetorkan media lukis atau batu granitnya kemudian akan di buatkan lukisannya sesuai permintaan.

Semua lukisan tersebut, ia kerjakan dan buat di rumahnya. Pelukis yang kerap disapa Mas Diyon itu mengaku, bahwa ia belum memiliki tempat/studio khusus produksinya. Oleh karena itu, ia memaksimalkan ruang kecil yang berada di samping rumahnya.

Rumitnya melukis di atas batu granit terlihat sangat jelas. Terbukti dengan kehati-hatiannya saat menggores mata bor nya. Pelan-pelan dengan penuh kesabaran. Karena jika terjadi kesalahan maka ia harus menghapus kesalahannnya sebelum melanjutkan, jika kesalahan sangat fatal, maka gambar harus di lukis ulang, hal ini sangat disayangkan karena dapat memperlambat proses produksi.

“Melukisnya butuh ketelitian sekaligus kesabaran. Karena ini beda dengan lukisan tangan pada umumnya. Caranya buat titik kecil menggunakan batang baja yang sudah dilancipkan, hingga membentuk gambar atau objek,” cetusnya.

Para pelanggan yang memesan lukisannya biasanya diwajibkan membayar setengahnya terlebih dahulu, dengan mengirimkan foto wajah yang hendak dilukis. Jika sudah selesai, sisa pembayaran bisa dilunaskan melalui cash atau transfer. Hingga saat ini, bisnis beliau banyak diminati masyarakat.

Ir_kkn29

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.