Pasuruan, Jawa Timur
Selasa, 26 Mei 2026

Mahasiswa KKN Kelompok 20 Lakukan Observasi di Candi Jawi sebagai Pengadaan Website Desa

PortalArjuna.Net – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 20 melakukan observasi ke kompleks cagar budaya Candi Jawi yang merupakan ikon pariwisata Desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.

Hal ini dilakukan sebagai salah satu perwujudan Program Kerja (Proker) kelompok 20 yaitu pengadaan website desa yang berisi berbagai informasi desa termasuk destinasi wisata.

Sebagai salah satu ikon pariwisata, Candi Jawi dikelola langsung oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek)
Observasi ke Candi Jawi didampingi oleh Bapak Sulikin selaku juru pelihara Candi Jawi. Beliau turut menjelaskan sejarah berdirinya Candi Jawi dan filosofi bangunan candi.

Candi Jawi merupakan Candi Siwa-Buddha yang dibangun pada abad ke 13 pada masa pemerintahan Kerajaan Singosari.

Pembangunan candi ini dipercaya sebagai bentuk pendermaan dan tempat peletakan abu Raja Kertanegara sebagai raja terakhir Kerajaan Singosari.

Candi Jawi berdiri di atas lahan seluas 40 x 60 meter persegi dan memiliki ketinggian 24,5 meter serta lebar 9,5 meter.

Salah satu keunikan Candi Jawi adalah candi ini dibangun menggunakan batu andesit merah, putih dan hitam. Batu andesit seringkali digunakan sebagai bahan bangunan candi karena mudah direkatkan dan dipahat.

Seperti yang kita ketahui, hampir seluruh bangunan candi yang tersebar di Nusantara memiliki relief yang dipahat disekeliling bangunan candi. Sayangnya, hingga saat ini Relief pada candi jawi masih sulit diterjemahkan oleh para ahli.

Namun beberapa arkeolog berpendapat bahwa relief tersebut mengisahkan pertemuan Pangeran Sitosoma dan Putri Candrawati.

Candi Jawi memiliki ruang peribadatan yang di dalamnya terdapat linggayoni yang merupakan simbol laki-laki dan perempuan. Arsitektur ini di percaya sebagai peningalan budha.

Sementara itu, di atap ruang peribadatan terdapat simbol kalki berupa dewa yang menunggangi kuda.

Arsitektur Candi Jawi merupakan perpaduan arsitektur siwa hindu dan buddha. Di setiap sudut candi dapat ditemukan arca Batara Kala yang diyakini dapat menolak bala.

Hingga saat ini, Candi Jawi masih dimanfaatkan sebagai tempat ibadah oleh beberapa umat hindu yang berada di sekitar area candi.

Selain sebagai tempat ibadah, Candi Jawi juga dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan ritual kepercayaan dan pelaksanaan event bulanan seperti pertunjukan Tari Padhang Bulan.

Di akhir observasi, Bapak Sulikin mengajak mahasiswa KKN menyambangi museum Candi Jawi yang terletak di area belakang candi.

Museum tersebut berisi berbagai informasi tentang Candi Jawi, mulai dari penemuan, pemugaran, rekonstruksi ulang, dan proses perawatannya.

Bapak Sulikin berpesan agar mahasiswa sebagai insan berpendidikan dapat turut serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga dan merawat cagar budaya serta sejarah yang terkandung di dalamnya.***

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial