Portalarjuna.net, Pasuruan – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Purwosari, seorang perempuan tangguh bernama Ibu Tia berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Setiap hari, dia mengamen di lampu merah untuk mencari nafkah. Dengan penghasilan harian rata-rata Rp 40.000, dia berusaha membiayai kehidupan dan pendidikan kedua anaknya. Ditinggal suami yang hanya menikah siri dan menolak memberi nafkah, Ibu Tia menjadi tulang punggung keluarga.
Perjalanan hidupnya bermula dari sebuah desa kecil di Nganjuk. Keterbatasan ekonomi memaksanya untuk merantau mencari penghidupan yang lebih baik. Dengan modal nekat dan tekad yang kuat, dia memilih jalanan sebagai tempat mencari rezeki, mengharapkan setiap lembar uang yang didapatkan bisa mengubah nasib keluarganya.
Tantangan tidak hanya datang dari sulitnya mencari nafkah, namun juga dari pandangan masyarakat sekitar. Ibu Tia kerap dipandang sebelah mata, bahkan dianggap sebagai sosok yang tidak berarti. Namun, dia tetap tegar. Baginya, cemoohan dan pandangan negatif tidak akan menghalangi mimpinya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
“Orang yang memiliki kewenangan tidak akan selamanya memiliki kewenangan tersebut, dan orang yang ada di jalanan juga tidak selamanya akan berada di jalanan,” tutur Ibu Tia dengan tatapan penuh harap. Kalimat ini seolah menjadi mantra yang menguatkannya dalam setiap langkah perjuangan. Dia percaya bahwa keadaan saat ini bukanlah takdir akhir, melainkan sekadar singgahan sementara dalam perjalanan hidupnya.
Dalam setiap hari yang dilaluinya, Ibu Tia selalu memegang teguh harapan. Meski harus rela berdiri di bawah teriknya matahari atau dinginnya malam, dia tidak pernah putus asa. Setiap lembar uang yang didapatkan dari mengamen adalah investasi masa depan, sebuah pengorbanan yang tak ternilai untuk memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik kepada buah hatinya.
Author: Selinda Dwi Salsabila










