Portalarjuna.net, Pandaan – Masjid Cheng Hoo di Pandaan, Pasuruan, menjadi salah satu bukti harmonisnya perpaduan budaya Islam dan Tionghoa di Nusantara. Berbeda dari Masjid Cheng Hoo Surabaya yang lebih terkenal, masjid ini memiliki karakteristik tersendiri yang tetap mempertahankan estetika budaya Tionghoa dalam arsitekturnya.
Menurut Dr. Ahmad Sanusi, seorang sejarawan dari Universitas Negeri Malang, Masjid Cheng Hoo di Pandaan dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap Laksamana Cheng Hoo, seorang pelaut Muslim asal Tiongkok yang berjasa menyebarkan Islam di Asia Tenggara. “Masjid ini mencerminkan jejak sejarah akulturasi budaya yang memperlihatkan harmoni antara tradisi Islam dan seni arsitektur Tionghoa,” ujar Dr. Sanusi.
Masjid ini memiliki ciri khas kubah berbentuk pagoda dan ornamen merah serta emas yang mendominasi bangunan. Elemen dekoratif seperti ukiran naga, lentera merah, dan motif awan menciptakan atmosfer yang unik, sekaligus memperkuat identitasnya sebagai tempat ibadah yang sarat makna sejarah.
Selain itu, masjid ini sering digunakan tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga sebagai tempat silaturahmi komunitas Muslim Tionghoa setempat. Menurut Prof. Hendro Wibowo, seorang ahli budaya dari Universitas Airlangga, Masjid Cheng Hoo di Pandaan memainkan peran penting dalam menjaga hubungan baik antara masyarakat lokal dengan komunitas Tionghoa. “Masjid ini adalah simbol persatuan dan toleransi yang telah berlangsung selama berabad-abad,” jelas Prof. Hendro.
Bagi wisatawan, masjid ini juga menawarkan nilai edukasi sejarah yang menarik. Masyarakat lokal kerap menceritakan asal-usul dan filosofi di balik setiap elemen desain masjid, sehingga pengunjung dapat lebih memahami makna di balik keindahannya.
“Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga jendela untuk melihat bagaimana budaya dapat berpadu tanpa menghilangkan identitas masing-masing,” tambah Dr. Sanusi.
Dengan keindahan dan nilai sejarahnya, Masjid Cheng Hoo di Pandaan menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menarik untuk dikunjungi. Keberadaannya mengingatkan kita akan pentingnya harmoni dalam keberagaman.
Author: Muhammad Iqbal Sya’bani









