Portalarjuna.net, Tosari – Setiap tahun, upacara Yadnya Kasada di Kawah Bromo menjadi puncak spiritualitas masyarakat Suku Tengger. Dalam ritual ini, umat Hindu Tengger mempersembahkan sesaji berupa hasil bumi, ternak, hingga uang ke kawah Gunung Bromo sebagai wujud rasa syukur dan pengabdian kepada Sang Hyang Widhi. Namun, di balik sakralnya ritual ini, ada kelompok yang disebut orang Marit, mereka yang dengan cekatan mengambili sesaji yang dilemparkan ke kawah.
Menurut Dr. Sri Utami, seorang antropolog dari Universitas Gadjah Mada, orang Marit memiliki peran penting dalam dinamika sosial dan spiritual upacara Yadnya Kasada. “Mereka bukan sekadar pengambil sesaji, tetapi juga bagian dari tradisi yang berlapis makna. Aktivitas mereka mencerminkan upaya untuk memanfaatkan hasil persembahan tanpa mengurangi nilai spiritualnya,” jelas Dr. Sri.
Orang Marit biasanya terdiri dari penduduk lokal atau mereka yang hidup dengan kondisi ekonomi sederhana. Dengan menggunakan jaring atau kantong, mereka menanti di sisi kawah untuk menangkap sesaji yang dilemparkan. Menurut Wiyono, salah satu orang Marit yang telah mengikuti tradisi ini selama lebih dari 10 tahun, pekerjaannya ini bukan sekadar mencari rezeki, tetapi juga cara untuk memahami filosofi Yadnya Kasada. “Kami tidak sekadar mengambil. Bagi kami, ini adalah berkah dari para leluhur dan dewa yang dititipkan kepada manusia,” ungkap Wiyono.
Meskipun tradisi orang Marit sering dipandang unik oleh wisatawan, beberapa pihak menilai pentingnya edukasi untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan penghormatan terhadap ritual. Dr. Sri menambahkan, “Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Tengger mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan penghormatan spiritual.”
Author: Muhammad Iqbal Sya’bani









