Portalarjuna.net, Purwosari – Belakangan ini, bahan pakaian polyester menjadi sorotan di media sosial, terutama di platform TikTok, karena kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan.
Dampak Kesehatan:
- Iritasi Kulit: Polyester tidak memiliki kemampuan menyerap keringat dengan baik, sehingga keringat menumpuk di permukaan kulit. Kondisi ini dapat memicu iritasi, ruam, atau alergi, terutama bagi individu dengan kulit sensitif.
- Paparan Bahan Kimia Berbahaya: Proses pembuatan polyester melibatkan penggunaan bahan kimia seperti formaldehida dan ftalat. Zat-zat ini dapat menempel pada serat kain dan, saat pakaian digunakan, dapat terlepas dan diserap oleh kulit, berpotensi menimbulkan reaksi alergi atau masalah kesehatan lainnya.
- Gangguan Sistem Hormon: Ftalat yang digunakan dalam produksi polyester diketahui dapat mengganggu sistem endokrin, yang mengatur hormon dalam tubuh. Paparan jangka panjang terhadap zat ini dapat menyebabkan gangguan hormonal.
Dampak Lingkungan:
- Pencemaran Mikroplastik: Setiap kali pakaian berbahan polyester dicuci, serat mikroplastik kecil terlepas dan masuk ke dalam sistem air. Mikroplastik ini akhirnya mencemari lautan dan sungai, meracuni kehidupan laut, dan berpotensi masuk ke rantai makanan manusia.
- Non-Biodegradable: Polyester adalah bahan sintetis yang tidak mudah terurai secara alami, sehingga berkontribusi pada masalah sampah plastik global.
Alternatif yang Lebih Aman:
Untuk mengurangi risiko kesehatan dan dampak negatif terhadap lingkungan, disarankan memilih pakaian yang terbuat dari bahan alami seperti katun organik, linen, atau serat bambu. Bahan-bahan ini lebih ramah lingkungan dan umumnya lebih aman bagi kesehatan kulit.
Dengan memahami potensi bahaya yang terkait dengan penggunaan pakaian berbahan polyester, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih bijak dalam memilih produk fashion yang aman dan berkelanjutan.
Author: Isy Sabela Mardliyah





