Portalarjuna.net, Pasuruan – Jutaan masyarakat Indonesia di seluruh pelosok negeri pada tanggal 7 hingga 8 September dini hari kemarin, disuguhkan pemandangan langit yang luar biasa indah, yaitu fenomena Gerhana Bulan Total atau Blood Moon. Fenomena astronomi yang langka ini berhasil memukau para pengamat langit, baik yang menyaksikannya secara langsung maupun melalui siaran langsung daring.
Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gerhana dimulai sejak pukul 22.26 WIB dengan fase penumbra, kemudian berlanjut ke fase sebagian pada pukul 23.26 WIB. Puncak gerhana total terjadi pada pukul 01.11 WIB, di mana Bulan tampak berwarna merah gelap akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Fase totalitas ini berlangsung hingga pukul 01.53 WIB, sebelum akhirnya Bulan kembali memasuki fase gerhana sebagian dan berakhir pada pukul 03.56 WIB.
Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, sebelumnya telah menjelaskan bahwa gerhana Bulan Total ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia. Beliau juga menambahkan bahwa kelengkungan bayangan Bumi saat gerhana sebagian menjadi bukti nyata bentuk Bumi yang bulat, sebuah fakta yang terus menarik perhatian dan kekaguman.
BMKG mencatat, total durasi gerhana dari fase awal hingga akhir mencapai 5 jam 29 menit 48 detik, dengan durasi totalitas selama 1 jam 22 menit 56 detik. Masyarakat di wilayah barat Indonesia dapat menyaksikan seluruh fase gerhana, sementara pengamat di wilayah timur, seperti Papua, menyaksikan gerhana hingga Bulan terbenam sebelum fase penumbra berakhir. Meskipun terdapat sedikit perbedaan jadwal fase gerhana antara BMKG dan Observatorium Bosscha, masyarakat tetap dapat menikmati seluruh proses gerhana dengan jelas.
Fenomena gerhana Bulan total ini menjadi salah satu dari empat peristiwa gerhana yang terjadi sepanjang tahun 2025. Sebelumnya, telah terjadi Gerhana Bulan Total pada 14 Maret dan Gerhana Matahari Sebagian pada 29 Maret. Gerhana Matahari Sebagian lainnya akan terjadi pada 21 September mendatang, namun sayangnya tidak dapat diamati dari Indonesia.
Bagi yang ketinggalan momen Gerhana Bulan Total kali ini, fenomena serupa baru akan kembali menghiasi langit Indonesia pada tahun 2033 mendatang.
Author: Rizky Nur Ilmal M.








