Portalarjuna.net, Prigen – Di sebuah sudut Desa Gambiran, Kecamatan Prigen, suasana tengah malam berjalan dalam keheningan. Tanpa penerangan, hanya suara serangga, angin yang menyapu sawah, dan desau dedaunan yang terdengar. Dalam kondisi tersebut, sekelompok warga duduk tertib menjalani semedi, sebuah praktik spiritual yang telah mereka lakukan secara turun-temurun.
Mereka adalah bagian dari Budho Jawi Wisnu, komunitas penghayat kepercayaan yang telah lama berkembang di wilayah Pasuruan. Praktik semedi dilakukan tiga kali dalam sepekan, tepat tengah malam, dengan susunan yang teratur: para siswo berada di belakang, sementara tetua memimpin di depan, dengan prapen sebagai sarana ibadah.
Tetua komunitas, Bopo Pitono, mengatakan bahwa komunitas ini telah ada sejak sebelum Indonesia merdeka dan terus bertahan hingga kini. Anggotanya tersebar di beberapa wilayah, dengan jumlah yang cukup banyak meski tetap menjadi kelompok minoritas.
Namun, di balik praktik spiritual yang dijalankan secara tenang, sejumlah anggota komunitas mengaku pernah mengalami perlakuan diskriminatif di lingkungan sosialnya.
Salah satu peristiwa yang masih diingat adalah ketika seorang anggota tidak diizinkan dimakamkan di pemakaman desa setempat setelah meninggal dunia. Selain itu, terdapat pula kejadian pelemparan batu ke rumah anggota yang dilakukan secara diam-diam.
“Beberapa dari kami pernah mengalami hal-hal seperti itu,” ujar Bopo Pitono.
Selain kejadian tersebut, tekanan sosial juga dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian masyarakat masih memandang keberadaan mereka sebagai sesuatu yang berbeda, sehingga memunculkan jarak sosial. Kondisi ini turut memengaruhi rasa aman sebagian anggota, yang hingga kini masih menyimpan kekhawatiran.
Di sisi lain, status administratif komunitas ini masih dalam proses menuju pengakuan resmi. Meski telah lama ada dan berkembang lintas generasi, proses tersebut belum sepenuhnya rampung.
Di tengah berbagai tantangan itu, kegiatan semedi tetap dijalankan secara rutin. Bagi para anggota, praktik tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan batin dan hubungan dengan alam.
Keberadaan Budho Jawi Wisnu menjadi salah satu potret keberagaman praktik kepercayaan di Indonesia yang masih terus berproses, baik dalam penerimaan sosial maupun pengakuan administratif.
Author: Muhammad Iqbal Sya’bani










