PortalArjuna.net, Malang – Pada pagi yang tidak terlalu ramai di Jembatan Pasar Singosari, Malang, seorang lelaki tua duduk bersandar pada tembok jembatan. Tubuhnya besar, kulitnya coklat matang, dan matanya terlihat berkabut oleh usia. Ia adalah Bapak Alfati, pria asal Kediri yang kini berusia 95 tahun—dan hidup sebagai ODGJ yang berpindah tempat setiap hari, (18/11/2025).
Foto yang saya ambil hari itu merupakan momen awal ketika saya menghampirinya. Tanpa banyak bicara, saya mengulurkan makanan dan sedikit uang. Gerakannya sempat ragu, tetapi setelah barang itu ada di tangannya, wajahnya melunak. Ia tersenyum—senyum tua yang sederhana, namun menyimpan banyak kisah yang tidak pernah selesai.
Dalam kondisi seperti itu, ia mulai bercerita meski kata-katanya sering melompat-lompat.
Bapak Alfati mengatakan bahwa sebelum hidup terlantar, ia pernah “hidup lengkap” seperti orang lain. Ia mengaku pernah menikah empat kali, tetapi tidak memiliki anak kandung. Dengan suara lirih, ia menyebut bahwa ia hanya punya “anak siri”, tanpa menyebutkan siapa atau di mana keberadaannya.
Namun, bagian yang paling jelas dari ceritanya bukan tentang pernikahan, melainkan tentang keluarganya sendiri. Ia memejamkan mata sebentar sebelum berkata:
“Aku iki ditinggal keluargaku… mergo dudu setara, beda tahtané.”
(“Saya ditinggalkan keluargaku… karena dianggap tidak setara, berbeda tingkatannya.”)
Ia bercerita bahwa adiknya hidup jauh lebih kaya, sementara dirinya dianggap tidak pantas berada dalam lingkaran keluarga. Dari pengakuannya, perbedaan itu membuatnya dijauhkan secara perlahan hingga akhirnya terputus sepenuhnya.
Dari cara ia berbicara yang tidak runtut, penuh delusi, dan kadang merasa memiliki “ilmu yang sangat tinggi”, terlihat bagaimana pikirannya telah lama tidak stabil. Keyakinannya bahwa otaknya “tidak kuat menampung ilmu” menggambarkan gejala gangguan pikir yang berat.
Kini, tanpa rumah, ia hidup dari satu tempat ke tempat lain. Jembatan, selokan, depan toko, atau emper pasar—semuanya pernah menjadi tempatnya tidur. Tidak ada lokasi tetap; setiap hari ia berpindah, seolah mencari tempat yang tidak pernah benar-benar ia temukan.
Foto tunggal yang saya abadikan bukan sekadar potret seorang ODGJ yang duduk di pinggir jalan. Itu adalah potret kesepian, penolakan keluarga, dan lansia berusia hampir satu abad yang bertahan hidup hanya dengan sisa-sisa ingatannya.
Bapak Alfati adalah bukti bahwa tidak semua keterlantaran terjadi karena kehendak. Terkadang, ia lahir dari luka keluarga yang tidak pernah sembuh—dan dari seseorang yang perlahan kehilangan pijakan pada kenyataan.
Author: Eva Adelia Fransisca











