Portalarjuna.net, Prigen – Kabut tipis lereng Gunung Welirang belum sepenuhnya tersibak ketika pesona arsitektur kuno mulai menampakkan diri. Berdiri anggun di kaki pegunungan, tepatnya di Desa Candi Wates, Kec. Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, Candi Jawi bukanlah sekadar tumpukan batu andesit; ia adalah prasasti abadi tentang akulturasi, toleransi, dan keindahan spiritualitas yang terjalin erat. Inilah sebuah kisah yang terukir dalam sunyi, kisah tentang harmoni Hindu-Buddha yang menyatu dalam satu tubuh bangunan megah.
Melangkah memasuki kompleks Candi Jawi seperti menjejakkan kaki ke dalam narasi historis yang mendalam. Dinding-dindingnya yang menjulang tinggi, dengan relief-relief yang kini sebagian telah aus dimakan waktu, membisikkan riwayat pendiriannya pada abad ke-13, masa puncak kejayaan Kerajaan Singasari. Candi ini didirikan atas perintah Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari, sebagai tempat pendarmaan (penyimpanan abu jenazah) bagi dirinya. Namun, yang menjadikan Candi Jawi unik dan memikat adalah karakternya yang bervariasi. Secara umum, candi ini memiliki langgam arsitektur yang kental dengan ciri khas Hindu Siwa, namun di puncak kemuncaknya, terdapat stupa Buddha, sebuah simbol kosmologi yang jelas menunjukkan sinkretisme sempurna: Siwa-Buddha.
“Menurut Bapak Sumadi (35) hal yang paling menarik dari Candi Jawi adalah Arsitektur Bangunannya Megah, Kokoh, ramping, dan banyak filosofi dan maknanya karena candi ini di bangun tujuannya untuk filosofi lingkungan, sifat manusia dan lain sebagainnya yang ada di dunia kalo kita mempelajarinnya candi jawi ini semuannya sudah ada dari sifat-sifat manusia mistis, keagamaan, percintaan, politik,” kata juru pelihara candi jawi, Sabtu (03/01/26) berbeda dengan candi-candi lain di Jawa Timur yang cenderung tambun, seolah-olah menggambarkan spirit akulturasi yang menggapai langit. Keunikan ini menjadi representasi nilai budaya tinggi di mana dua aliran spiritualitas besar dapat hidup berdampingan, bahkan menyatu dalam satu ekspresi artistik. Ia mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang dapat melahirkan mahakarya.
Kunjungan ke Candi Jawi tak lepas dari refleksi mendalam terhadap Sapta Pesona, tujuh unsur yang harus diwujudkan dalam pariwisata. Keamanan dan Ketertiban Lingkungan candi yang terawat dan tertata rapi memberikan rasa aman bagi setiap pengunjung, memungkinkan mereka menikmati sejarah dalam ketenangan. Kebersihan dan Kesehatan Kebersihan kompleks candi sangat terjaga, mencerminkan penghormatan terhadap situs suci sekaligus memberikan kenyamanan bagi wisatawan. Kesejukan Lokasinya di kaki gunung menawarkan udara yang segar dan pohon rindang, menciptakan suasana kesejukan yang otentik. Keindahan Bentuk candi yang anggun dan latar belakang gunung adalah panorama keindahan alam dan buatan manusia yang memukau. Keramahtamahan Sikap masyarakat lokal dan juru pelihara yang ramah menjadi nilai tambah yang menghangatkan, sesuai dengan tradisi tatakrama Jawa. Kenangan Kisah historisnya yang kuat dan arsitektur uniknya menciptakan kenangan tak terlupakan tentang toleransi dan peradaban masa lampau. Keterjangkauan Akses dan biaya masuk yang gratis tanpa di pungut biaya apa pun, Cuma bayar parkir aja memastikan situs ini dapat dinikmati oleh semua kalangan, menjadikan warisan budaya ini inklusif.
Secara sosial, Candi Jawi berfungsi sebagai jangkar bagi komunitas sekitarnya. Kehadirannya menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian warisan leluhur. Pedagang lokal, pemandu wisata, hingga juru pelihara, semuanya terajut dalam benang sejarah candi, menciptakan mata rantai ekonomi berbasis budaya yang berkelanjutan. Masyarakatnya menghormati Candi Jawi bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai pusat spiritual yang sunyi, tempat jiwa dapat menemukan ketenangan.
pesan moral mendalam terpahat kuat dalam benak. Candi Jawi adalah monumen pengingat bahwa pluralisme adalah akar kebudayaan Nusantara. Ia adalah bukti nyata bahwa upaya mencari titik temu, bukan titik pisah, akan selalu menghasilkan sesuatu yang agung dan abadi.
Kesan yang tertinggal adalah kekaguman terhadap kearifan masa lalu. Raja Kertanegara, melalui peninggalannya, telah mengajarkan sebuah nilai pembelajaran fundamental: kebijaksanaan sejati terletak pada kemampuan merangkul perbedaan. Stupa Buddha di puncak lingga Siwa adalah filosofi yang terus relevan hingga hari ini. Ia menantang kita untuk melihat melampaui sekat-sekat identitas dan menemukan kemanusiaan universal yang sama-sama kita junjung. Candi Jawi, dengan segala keindahan dan kesunyiannya, adalah simbol harapan bahwa harmoni selalu mungkin terwujud, bahkan dalam struktur yang paling kompleks sekalipun.
Autor : Muhammad Rangga W.H.P









