Portalarjuna.net, Tengger – Di dalam sebuah balai desa yang hangat oleh cahaya lampu, masyarakat Tengger duduk bersila mengelilingi sajian ritual yang tertata rapi. Deretan wadah kecil berisi air dan perlengkapan upacara diletakkan di atas tikar, sementara pisang raja, kelapa, dan hasil bumi lainnya tersusun sebagai sesaji. Suasana hening menyelimuti ruangan ketika seorang tokoh adat Tengger perlahan berlutut di hadapan sesaji, memulai prosesi Upacara Adat Isen-Isen di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Isen-Isen merupakan salah satu ritual adat penting dalam kehidupan masyarakat Tengger. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk penyucian diri, lingkungan, serta ungkapan syukur atas kehidupan yang telah dijalani. Dalam kepercayaan masyarakat Tengger, Isen-Isen menjadi sarana untuk membersihkan unsur-unsur negatif, sekaligus memohon keselamatan, kesehatan, dan ketenteraman bagi warga desa.
Prosesi Isen-Isen dipimpin oleh Dukun Pandita, tokoh adat yang memegang peran sentral dalam ritual keagamaan masyarakat Tengger. Dengan busana adat khas dan ikat kepala hitam, sang dukun memulai ritual dengan doa-doa yang dilantunkan dalam bahasa Tengger. Setiap gerakan dilakukan dengan perlahan dan penuh ketelitian, mencerminkan kesakralan upacara yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Warga yang hadir mengikuti jalannya prosesi dengan khidmat. Tidak terdengar percakapan keras, hanya sesekali suara doa dan gesekan alat ritual yang digunakan. Kaum laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, duduk bersama tanpa sekat, menandakan kuatnya rasa kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Tengger. Anak-anak dan remaja tampak menyimak dengan penuh rasa ingin tahu, belajar memahami nilai adat dan spiritual yang diwariskan oleh para leluhur.
“Isen-Isen adalah upacara untuk membersihkan diri dan desa, agar kehidupan masyarakat tetap selaras,” ujar Suparman, tokoh masyarakat Tengger Desa Tosari. Menurutnya, ritual ini menjadi pengingat agar manusia selalu menjaga perilaku, hubungan sosial, dan keseimbangan dengan alam. “Kalau batin dan lingkungan bersih, kehidupan akan lebih tenteram,” katanya.
Persiapan upacara Isen-Isen dilakukan secara gotong royong oleh warga desa. Sejak pagi hari, masyarakat telah berkumpul untuk menyiapkan sesaji, membersihkan pendopo, serta menata perlengkapan ritual. Peran masing-masing warga dijalankan dengan penuh kesadaran, tanpa perintah resmi, mencerminkan nilai tertib dan tanggung jawab sosial yang telah melekat dalam budaya Tengger.
Selain memiliki makna spiritual, Isen-Isen juga berfungsi sebagai sarana mempererat ikatan sosial. Upacara ini menjadi momentum berkumpulnya warga desa, saling berbagi cerita, serta memperkuat rasa persaudaraan. Dalam suasana yang sederhana namun sarat makna, masyarakat Tengger menegaskan kembali identitas budaya mereka sebagai komunitas yang hidup berdampingan secara harmonis.
Dalam beberapa tahun terakhir, upacara Isen-Isen mulai menarik perhatian wisatawan budaya yang berkunjung ke kawasan Tosari dan Bromo. Kehadiran wisatawan disambut secara terbuka, namun tetap dibatasi oleh aturan adat. Wisatawan diperbolehkan menyaksikan prosesi dengan sikap hormat, tanpa mengganggu jalannya ritual atau mengambil dokumentasi secara berlebihan.
“Kami ingin budaya Tengger dikenal, tapi kesakralannya harus tetap dijaga,” ujar salah satu perangkat desa. Menurutnya, wisata budaya dapat menjadi media edukasi yang memperkenalkan nilai kearifan lokal kepada generasi luar, sekaligus memperkuat citra Tosari sebagai desa adat yang kaya tradisi.
Nilai-nilai Sapta Pesona tampak nyata dalam pelaksanaan Isen-Isen. Rasa aman dan tertib tercermin dari jalannya prosesi yang teratur. Kebersihan lokasi upacara dijaga bersama, sementara suasana sejuk dan damai menambah kekhusyukan ritual. Keramahan masyarakat Tengger terhadap sesama warga dan tamu menciptakan pengalaman budaya yang berkesan dan penuh makna.
Di tengah arus modernisasi dan perkembangan pariwisata, masyarakat Tengger Desa Tosari tetap teguh menjaga tradisi leluhur. Upacara Isen-Isen bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol kesadaran spiritual dan kebersamaan sosial. Dari pendopo desa di lereng Tosari, doa-doa itu dipanjatkan, menjadi pengingat bahwa kebersihan hati, harmoni sosial, dan keseimbangan alam adalah fondasi utama kehidupan masyarakat Tengger hingga hari ini.
Author : Mohammad Nadzirum Mubin









