Pasuruan, Jawa Timur
Selasa, 26 Mei 2026

Keheningan Goa Jalmo, Cerita dari Kolam Alami di Tengah Hutan Cendono

Portalarjuna.net, Purwosari – Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika embun masih menempel di daun-daun pisang di sekitar Goa Jalmo. Udara dingin khas Purwosari membuat siapa pun yang datang harus menarik napas dalam-dalam, merasakan kesegaran yang sulit ditemukan di pusat kota. Dari kejauhan, suara gemericik aliran sungai kecil terdengar lembut, mengiringi langkah-langkah wisatawan yang menuruni jalan setapak menuju kolam alami di bawah pepohonan. Tempat ini seolah terjaga oleh heningnya hutan dan kesederhanaan alam yang tetap lestari.

Goa Jalmo bukanlah destinasi wisata besar yang dipenuhi bangunan modern atau tiket mahal. Ia adalah ruang alam yang dikelola warga Dusun Cendono dengan penuh kesadaran. Kolam-kolamnya terbentuk mengikuti kontur tanah, dikelilingi bebatuan, dan dialiri mata air yang jernih. Tidak banyak perubahan besar yang dilakukan pengelola; justru kesederhanaan inilah yang menjadi daya tarik utamanya.

“Dulu, tempat ini hanya dikunjungi warga sekitar,” cerita rokhim, ketua pengelola Goa Jalmo, sambil menunjukkan batu besar yang menjadi titik awal aliran air. “Tapi setelah banyak anak muda mengunggah foto-foto ke media sosial, barulah wisatawan dari luar kecamatan mulai berdatangan.”

Masril bercerita, pengelolaan wisata ini murni swadaya masyarakat. Tidak ada tiket resmi, hanya kotak donasi sukarela. Setiap minggu, warga dan karang taruna mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lumut, memotong ranting, dan memperbaiki jalur licin. Semua dilakukan demi menjaga prinsip Bersih, Tertib, dan Sejuk, yang menjadi bagian penting dari Sapta Pesona.

Ketika matahari mulai menembus celah dedaunan, kolam-kolam mulai tampak berkilau. Seorang wisatawan asal Pandaan, Putri, datang lebih awal untuk menghindari keramaian. Ia duduk di tepi kolam sambil merendam kaki, membiarkan air dingin mengalir perlahan. “Setiap kali datang ke sini, rasanya seperti pulang ke rumah,” ujarnya pelan. “Tempat ini sederhana, tapi memberikan kenangan yang tidak bisa digantikan.”

Laras bukan satu-satunya pengunjung yang merasakan kedamaian di Goa Jalmo. Banyak wisatawan mengaku datang untuk mencari ketenangan batin, sekadar melepaskan penat setelah bekerja. Suasana alami, suara air, dan udara sejuk memberikan sensasi terapi tersendiri. Bahkan beberapa pengunjung rela datang dari Pasuruan kota hanya untuk berendam sebentar lalu kembali ke aktivitas harian.

Namun di balik keindahannya, Goa Jalmo juga menghadapi tantangan. Pada musim hujan, debit air sungai meningkat dan membuat beberapa area licin. Ini mendorong pengelola untuk memasang pembatas sederhana dan papan peringatan demi keamanan pengunjung. “Kami ingin tempat ini tetap Aman dan tidak menimbulkan risiko,” kata Masril. “Karena kalau ada kecelakaan, bukan hanya wisatawan yang rugi, tapi nama baik desa juga.”

Selain menjaga keamanan, pengelola juga fokus pada edukasi. Mereka menempelkan tulisan kecil tentang menjaga kebersihan lingkungan serta larangan membuang sampah sembarangan. Meski sederhana, pesan itu cukup berdampak. Wisatawan kini lebih tertib, tidak segan memungut sampah kecil yang terlihat di jalur masuk.

Di sisi ekonomi, keberadaan Goa Jalmo memberi harapan bagi warga sekitar. Beberapa warung kecil mulai tumbuh di dekat pintu masuk, menjual kopi, mie hangat, atau jajanan tradisional. Siti Maryati, pemilik salah satu warung, mengaku pendapatannya meningkat sejak tempat ini mulai dikenal. “Tidak banyak, tapi cukup menambah belanja harian,” katanya sambil tersenyum.

Menjelang siang, sinar matahari menyinari seluruh kolam dan memantulkan warna hijau toska yang menenangkan. Anak-anak desa datang berlarian, tertawa sambil melompat ke kolam dangkal. Mereka tumbuh dengan alam, mengenal air, batu, dan pepohonan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada kehangatan dalam kebersamaan mereka—sebuah gambaran Ramah dan penuh Kenangan yang menjadi ciri khas desa wisata.

Goa Jalmo mungkin tidak megah, tidak pula menjadi destinasi wisata besar. Tetapi justru di situlah keistimewaannya. Tempat ini menawarkan sesuatu yang jarang ditemukan: hubungan manusia dengan alam yang tidak dipaksakan. Ia adalah ruang hening yang mengundang siapa pun untuk berhenti sejenak, mendengar suara sungai, dan merasakan kedamaian yang tulus.

Di akhir hari, ketika angin kembali dingin dan pepohonan kembali bersuara, Goa Jalmo tetap berdiri sebagai saksi: bahwa wisata tidak selalu harus diramaikan, cukup dijaga agar tetap memberi keindahan dan kenangan bagi setiap pengunjung yang datang.

Author : Iwan Falik

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial