Pasuruan, Jawa Timur
Senin, 10 Agustus 2026

Tari Sodoran Meriahkan Penutupan Yadnya Karo di Desa Ngadiwono, Kec. Tosari, Kab. Pasuruan.

Portalarjuna.net, Tosari – Rangkaian Yadnya Karo 2026 resmi ditutup di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Senin (10/8/2026). Prosesi penutupan berlangsung khidmat, dihadiri dua Romo Dukun, satu sesepuh, dan dua legen adat, dengan Tari Sodoran sebagai puncak ritual sekaligus dimeriahkan pertunjukan reog dan bantengan.

Dalam prosesi penutupan tersebut, para penari Sodoran menampilkan gerakan yang menggambarkan asal-usul kehidupan manusia menurut kepercayaan Tengger, sebelum akhirnya menghancurkan bambu berisi biji-bijian pada bagian klimaks tarian. Biji-bijian yang tumpah dari bambu itu disimbolkan sebagai kesuburan, harapan akan keberlangsungan hidup, serta kelimpahan hasil bumi bagi masyarakat Tengger.

Kehadiran dua Romo Dukun bersama satu sesepuh dan dua legen adat menjadi penanda sahnya penutupan rangkaian Yadnya Karo secara adat di Ngadiwono. Susunan pemuka adat ini lazim ditemui dalam setiap prosesi besar Tengger, di mana Romo Dukun (Dukun Pandita) memimpin jalannya ritual, sementara sesepuh dan legen mendampingi sebagai penjaga tata cara serta nilai-nilai leluhur.

Suasana penutupan semakin meriah dengan pertunjukan kesenian rakyat reog dan bantengan yang ditampilkan warga setempat. Kesenian ini memang lazim menyertai acara-acara adat besar di Desa Ngadiwono sebagai bentuk hiburan rakyat sekaligus pelestarian budaya lokal.

Penutupan Yadnya Karo di Ngadiwono ini menjadi bagian dari rangkaian panjang perayaan yang dimulai sejak akhir Juli 2026 di Balai Desa Tosari, dan berlangsung selama 10-15 hari di berbagai desa Tengger Brang Kulon. Bahkan, demi menghormati kesakralan rangkaian ini, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru turut menutup sementara jalur pendakian Gunung Semeru hingga 18 Agustus 2026.

Yadnya Karo sendiri digelar tiap tahun pada bulan kedua kalender Tengger, dua bulan setelah Yadnya Kasada, sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada leluhur Suku Tengger, Joko Seger dan Roro Anteng, sekaligus momentum penyucian diri dan lingkungan yang oleh warga Tengger disebut Satya Yoga.

Author : Salsabilah Rachma

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial