Pasuruan, Jawa Timur
Selasa, 29 September 2026

VOID//VISION #2 “Among and Around” Pertemukan Tradisi, Teknologi, dan Seni Multidisiplin di Malang

Portalarjuna.net, Malang – Swarnaloka Journey kembali membawa ruang temu seni multidisiplin melalui VOID//VISION #2: Among and Around. Acara ini berlangsung pada 24–25 September 2026 di Sasana Krida Universitas Negeri Malang.

VOID//VISION #2 memperluas eksplorasi dari penyelenggaraan sebelumnya. Tahun ini, Swarnaloka Journey mempertemukan seni digital, teknologi, tradisi, musik, teater, dan video mapping.

Menafsirkan Kembali Lesung lewat Teknologi

Salah satu karya yang menarik perhatian hadir melalui tiga instalasi RE:ACT, RE:USE, dan RE:SONANCE dari Story of Karana, studio video mapping asal Malang.

Ketiga karya tersebut mengangkat lesung sebagai salah satu elemen tradisional. Tim Story of Karana mengembangkan karya ini melalui proses riset dan penafsiran kembali.

Eksplorasi itu berawal dari satu pertanyaan sederhana. “Apa yang sebenarnya penting dari sebuah lesung?”

Pertanyaan tersebut kemudian membuka cara pandang baru terhadap lesung. Pengunjung tidak hanya melihatnya sebagai benda tradisional. Mereka juga dapat merasakan pengalaman yang menggabungkan tradisi dan teknologi.

Tema “Among and Around” turut memperkuat pendekatan tersebut. Swarnaloka Journey ingin mempertemukan tradisi dengan teknologi dan konteks kehidupan masa kini.

Teknologi dalam karya tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual. Tim juga memanfaatkannya untuk membaca kembali nilai dan makna tradisi.

“Tradisi tidak harus selalu dipertahankan dalam bentuk masa lalunya. Tradisi juga bisa mengalami perubahan, beradaptasi dengan teknologi, dan menemukan bentuk pengalaman baru tanpa kehilangan nilai yang ada di dalamnya,” jelas Bremanta Yusouf Utama, selaku ketua pelaksana sekaligus founder Swarnaloka.

Sejumlah karya juga mengajak pengunjung berinteraksi secara langsung. Pengunjung dapat merasakan respons melalui bunyi, gerak, cahaya, dan visual.

Membuka Ruang bagi Seniman Muda

VOID//VISION #2 juga memberi ruang bagi para video mapping projection artist. Swarnaloka Journey menyiapkan fasad khusus di area panggung utama.

Tim sengaja mengosongkan fasad tersebut dan menjadikannya seperti kanvas. Para seniman kemudian mengisi ruang itu dengan karya proyeksi mereka.

Beberapa seniman yang terlibat masih berstatus mahasiswa. Kehadiran mereka menunjukkan ruang eksperimen yang ingin dibangun VOID//VISION bagi generasi muda di bidang seni media baru.

“VOID//VISION ingin membuka ruang pertemuan bagi seniman, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat untuk saling bertemu dan bereksperimen,” ungkap Bremanta.

Sajikan Beragam Pertunjukan

VOID//VISION #2 tidak hanya menghadirkan pameran instalasi. Swarnaloka Journey juga menyusun sejumlah program selama dua hari.

Pada 24 September, pengunjung dapat mengikuti pembukaan pameran instalasi, new media art workshop, creative market, dan pertunjukan video mapping.

Rangkaian acara berlanjut pada 25 September. Pengunjung dapat menikmati pameran, pertunjukan teater, dan penampilan musik dari GAHBM, Grey, Rumi, serta re:NAN.

Acara juga menghadirkan AV performance dan video mapping projection.

Perluas Eksplorasi dari Tahun Sebelumnya

VOID//VISION #2 mengembangkan konsep dari penyelenggaraan pertamanya pada 2025.

Pada 2025, VOID//VISION lebih banyak mengeksplorasi seni digital, teknologi, immersive experience, light art, dan audio-visual. Tahun ini, Swarnaloka Journey memperluas cakupannya ke seni multidisiplin.

“Kalau VOID//VISION 2025 lebih menjadi ruang eksplorasi seni digital, immersive experience, light art, dan audio-visual, tahun ini cakupannya diperluas menjadi seni multidisiplin dengan memasukkan tradisi, teater, musik, workshop, creative market, dan video mapping,” jelas Bremanta.

Perluasan konsep tersebut mempertemukan berbagai latar belakang dan disiplin. Mahasiswa, seniman, komunitas, pelaku industri kreatif, hingga masyarakat umum dapat ikut menikmati ruang tersebut.

Dorong Kolaborasi Seniman Muda

Swarnaloka Journey ingin terus mengembangkan VOID//VISION sebagai ruang temu bagi seniman dan masyarakat. Mereka juga ingin memperluas kesempatan bagi seniman muda untuk bereksperimen dan berkolaborasi.

Bremanta berharap penyelenggaraan berikutnya dapat menghadirkan lebih banyak karya. Ia juga berharap semakin banyak kolaborasi yang mempertemukan tradisi, teknologi, dan cara pandang generasi sekarang.

“Semoga di penyelenggaraan berikutnya semakin banyak karya dan kolaborasi yang berani mempertemukan tradisi, teknologi, dan cara pandang generasi sekarang, sehingga seni tidak hanya dipamerkan, tetapi benar-benar bisa dialami oleh pengunjung,” pungkas Bremanta.

Author: Dahlia Anis Widowati

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial