Politik Itu Kejam, Benarkah?

""

Seberapa kejamkah politik itu? apakah politik seperti preman yang manakutkan? Atau bagaikan singa yang tenga menerkam mangsanya?

politik1

Portal Arjuna Jatim- Pertama kali tatap muka dengan dosen ilmu pengantar politik, beliau memberi pertanyaan “What is politik?” Apa itu politik?. Ada yang menjawab politik dengan Trias Politika yakni pembagian kekuasaan atas eksekutif, legislative dan yudikatif. Berbeda dengan jawaban yang keluar dari mulut penulis, penulis menganalogikan politik dengan API. Mengapa demikian? Buktinya dengan sekejap bangunan, gedung-gedung habis dilalap jago merah, puluhan kios ludes terbakar dipasar pasrepan, hingga kerugian ditaksir ratusan juta rupiah. Namun kita juga harus menyadari bahwa, nasi, lauk pauk imposible dapat dinikmati bila tiada API, dengan apilah kita mematangkan lauk pauk serta nasi ditanakan, bayangkan bila tak ada api didunia?. Bagitu juga politik, begitu banyak rakyat menjadi korban akan ula-ula politikus, gedung-gedung runtuh akibat perebutan kekuasaan, namun politik juga banyak manfaatnya bagi kenyamanan dan ketentraman hidup, dengan adanya politik kita dapat teratur, ekonomi dan kebutuhan pangan terpenuhi dengan baik, lingkungan aman tanpa serangan dan ancaman bahaya.

Lain halnya dengan teman yang duduk disampingku, dengan tegas ia mengatakan bahwa politik itu coklat. Jawaban yang mengundang tawa, awalnya penulis ikut tertawa tapi setelah ia mengulas dan menjelaskan mengapa politik itu coklat penulis dapat memahami argumentasi dari anak salah satu caleg DPRD Kab Pasuruan ini. berikut penjelasnya “begini taksemua orang dapat mengkonsumsi menikmati kelezatan coklat dengan harganya yang mahal, begitu pula dengan politik yang hanya bisa dinikmati dan diikuti orang-orang yang berduit.

Dari sekian mahasiswa hanya ketiga jawaban diataslah yang berbeda. Mayoritas menjawab “politik itu kejam, politik sadis, politik kejam pak…. Mengapa politik dikatakan kejam? Politik penyebab keruwetan, kekisruan, bahkan sampai banyak korban berjatuhan. Penulis yakin memahaminya, Sekarang bagaimana dengan Uang? Tak sedikit orang ribut karena masalah uang, gara-gara harta warisan hingga tak saling sapa memutus silaturahmi dengan saudara, sebab uang perampok tega menganiaya bahkan tak segan-segan menghilangkan nyawa korban, karena mencari uanglah kita mengenal istilah korupsi. Sekarang apakah kita mengatakan Uang itu kejam?“Opo ae lek manfaate gedhe, madarate yo gedhe” apapun bila besar nilai kegunaannya maka besarpula resikonya.

What is politik?

Politik atau polis dalam pengertiannya muncul pada zaman Yunani Kuno Secara Bahasa polis artinya Negara/Kota, Politik berasal dari bahasa yunani polites berarti warga negara kemudian berkembang menjadi Politikos yang berarti kewarganegaraan, dan Politike yang berarti kemahiran politik Adapun konsep-konsep dalam ilmu politik senantiasa berkutat dalam masalah:

  • Kekuasaan – sumber kekuasaan – pengaruh – pembuat dan pelaksanan kebijakan
  • Kewenangan – kekuasaan berdasarkan legitimasi
  • Konflik dan consensus
  • Pengambilan keputusan dan cara mendistribusikan kekuasaan

Artistoteles berpendapat bahwa pilitik bukan lain merupakan kegiatan “Mengatur apa yang seyogyanya kita lakukan dan apa yang seyogyanya tidak kita lakukan”

Seorang aktifis era-60 Soe Hok Gie mengatakan “Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah”

Jika kita mengatakan Jokowi merupakan politikus sebab menduduki kursi presiden, bagaimana dengan Rasulullah yang menjadi kholifah di Negara Madina? apakah Beliau yang kita agung-agungkan bukan seorang politikus? Dan masihkah kita mengatakan politik itu kejam. Bukankah “Asyiasa Lil Mashlahatil Umah” politik bertujuan untuk kebaikan umat? Lalu penulis mencoba memahami, bahwa politik tak sekejam yang engkau kira, politik bukanlah sosok yang akan membudakan kita. Namun, jauh dari itu politik justru membina kebaikan bersama, politik tak ada salah atasnya. kitalah, oknumlah yang harus kita salahkan dan berbena dengan bertindak dengan apa yang seyogyanya di lakukan dan apa yang seyogyanya tidak dilakukan. Maaf tulisan ini bukanlah bantahan atas apa yang sering Beliau dawuhkan, justru tulisan ini menetas karena dawuh Beliau “awakmu nak kudu paham politik ben gak di caplok politikus, politik iku kejam nyam-nyam… politik ngunu yo ndak najis buktine nang yudharta yok ono Fakultas ilmu politik” …… seng politik tak dungakno dadi DPR…….. aku remen lek santriku dadi pemain bukan menjadi penyurung mobil mogok, awakmu dadi opo ae monggo dadi Kyai Ustadz, PNS, DPR, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden. Tukang Ojek monggo seng penting Kyai Guse mboten………

3 Comments

  1. Aminaga Jempinang 4 Maret 2015
    • muslimindonesia 2 September 2016
  2. Anonim 16 September 2016

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.