LARANGAN JIN-JINAN

""

jin

Ilustrasi

“Semua santri mulai kecil maupun besar dilarang jin-jinan/ agar tahu jin/ khodam alias perewangan biar tidak bodoh, akibat perbuatan tersebut maka membawa kebodohan. Sebab ilmu itu nur, dan (ilmunya Allah tidak diberikan kepada orang-yang berbuat maksiat) karena tidak cocok dengan doa yasinan, kemisan “Ya Allah ya Rabi kula lan sedoyo keluarga santri sedoyo Panjenengan paringi selamet dugi sedoyo macem-macem balak lan penyakit selamat dugi penggudone Jin Syetan” (Dawuh Pengajian Tafsir Senin, 12 Januari 2015.”

Portal Arjuna Jatim– Pada dasarnya sebagaimana dalam Tanwir Al-Qulub, 52 bahwa kita wajib beriman dengan adanya jin, hal ini berdasarkan ijma’ para ulama. Karena adanya jin ini sudah sering disebut dalam sumber hukum islam baik Al-qur’an maupun Al-Hadis. “Ketahuilah bahwasannya malaikat jin dan setan terkadang bisa dilihat dalam keadaan-keadaan tertentu”

Akan tetapi dalam Al-Kaw –Kab Al-Ajwaj, Hal: 193. Imam Syafi’I berkata: Barang siapa mengatakan pernah melihat bangsa jin, maka kesaksiaannya ditolak dan di ta’zir (diberi hukuman supaya jera), karena jelas-jelas yang demikian ini bertentangan dengan Al-Qur’an. Sebagian ulama’ mengarahkan perkataan imam syafi’I untuk orang-orang yang mengaku melihat bentuk aslinya, sebagaimana jin itu diciptakan.

Dari dawuh beliau diatas, penulis berani menyimpulkan bahwa dipesantren kita ini, ada sebagian santri yang mempunyai khodam, jin-jinan. memang untuk apa hal itu semua
dilakukan? apakah dengan hal itu mereka bisa terjaga dari mara bahaya? Apa manfaatnya bagi mereka melakukan hal tersebut? Apakah benar mahluk tersebut dapat memberi bantuan pada mereka? bagaimana hukum islam berkomentar bila ada manusia yang meminta bantuan kepada jin tersebut?

Sayyid Alwi Bin Ahmad Bin Abdur Rahman As-Segaf mengatakan dalam kitab Al-Fawaaid Al-Makkiyah Hal 17 tentang “Meminta Bantuan Kepada Jin-Jin/ Arwah-arwah yang diam di bumi”

ومنها الاستعانة بلأرواح الأرضية بواسطة الرياضة وقراءة العزائم الى حيث يخلق اللة تعلى عقب ذلك على سبيل جرى العادة بعض الخوارق وهذا النوع قالت المعتزلة انه كفر لانه لا يمكن معه معرفة صدق الرسل عليهم الصلاة والسلام للالتباس ورد بان العادة الإلهية جرت بصرف المعارضين للرسل عن اظهار خارق. ثم التحقيق ان يقال ان كان من يتعطى ذلك خيرا متشرعا في كامل ما يأتي ويذر. وكان من يستعين به من الأرواح الخيرة وكانت غزائمه لا تخالف الشرع. وليس فيما يظهر على يده من الحوارق ضرر شرعى على احد فليس ذلك من السحر بل يكفر ان اعتقد حل ذلك فان تعلمه ليتوق فمباح والا فمكروه. الفوايد المكية، ه 17

Artinya;Termasuk bagian dari Istikhmat adalah meminta bantuan Khodam, Roh-Roh yang berdiam dibumi (Jin) dengan melalui Riyadloh (tirakat) dan membaca mantra-mantra, setelah itu biasanya Allah menciptakan kejadian-kejadian luar biasa. Masalah ini menurut Mu’tazilah termasuk kufur karena bisa memalsukan kebenaran para Rasul. Namun pendapat ini ditolak oleh kenyataan, bahwa para penentangRasulpun banyak yang bisa menciptakan kejadian-kejadian luar biasa. Menurut pendapat yang dibuktikan Para Ulama’ jika pelakunya orang yang menjaga syari’at, menjalani perintah, menjahui larangan, mantra-mantra yang dibaca tidak bertentangan dengan ajaran syari’at, roh-roh yang diminta bantuan adalah rohroh yang baik (jin-jin yang beriman sebagaimana dalam Az-Zawajir:169 Juz II) dan kejadian-kejadian luar biasa tersebut juga tidak menimbulkan akibat yang membahayakan menurut syari’at, maka masalah ini bukan termasuk Sihir, namun merupakan Maunah atau Asror dari Allah dan jika tidak memenuhi syarat-syarat diatas, maka hukumnya Harom. Begitu juga mempelajarinya dengan tujuan untuk diamalkan. Bahkan bisa menjadi Kufur jika punya I’tikad dihalalkan menurut syara’. Sedangkan mempelajari dengan tujuan untuk menjaga diri, hukumnya Boleh dan jika tidak ada tujuan untuk itu, maka hukumnya Makruh. Al-Fawaaid Al-Makkiyah Hal 17

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.