Portalarjuna.net, Pasuruan – Ponsel bergetar di atas meja belajar. Notifikasi baru muncul dari media sosial, disusul unggahan teman yang sedang nongkrong di tempat hits, promo belanja tengah malam, sampai kabar acara kampus yang lagi hype. Di sela tugas yang menumpuk, banyak mahasiswa akhirnya tergoda membuka layar hanya “sebentar”. Namun dari kebiasaan kecil itulah, fenomena Fear of Missing Out atau FOMO tumbuh diam-diam.
Bagi sebagian mahasiswa, rasa takut tertinggal kini jadi bagian dari keseharian. Takut ketinggalan tren, takut tak tahu kabar terbaru, sampai takut dianggap kurang update. Akibatnya, waktu belajar sering tersita hanya untuk mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak mendesak.
Di lingkungan kampus, gejala ini makin mudah ditemui. Ada mahasiswa yang sulit lepas dari ponsel saat dosen menjelaskan materi. Ada pula yang berkali-kali membuka media sosial saat mengerjakan tugas karena khawatir ada info baru yang lewat. Niatnya cuma cek sebentar, ujung-ujungnya malah scrolling lama tanpa sadar. Jika dibiarkan, kebiasaan itu perlahan menggerus fokus dan disiplin diri.
Meski begitu, FOMO bukan berarti tidak bisa dikendalikan. Penelitian Asri Adella, Ika Amalia, dan Dwi Iramadhani menunjukkan bahwa mahasiswa yang punya kemampuan mengatur diri tetap mampu menjaga produktivitas meski hidup di tengah derasnya distraksi digital (Adella, Amalia, & Iramadhani, 2024). Mereka cenderung tahu kapan harus belajar, kapan harus istirahat, dan kapan harus log out sejenak dari media sosial.
Hal serupa ditemukan Dinda Adelfia, Adnani Budi Utami, dan Hetti Sari Ramadhani. Dalam penelitiannya, mahasiswa dengan kontrol diri yang baik terbukti memiliki tingkat FOMO lebih rendah dibanding mereka yang sulit membatasi penggunaan media sosial (Adelfia, Utami, & Ramadhani, 2024). Artinya, persoalan utamanya bukan pada teknologi, tapi pada cara seseorang memakainya.
Fenomena ini juga merambah gaya hidup mahasiswa. Diskon besar, promo terbatas, dan tren tempat nongkrong viral sering memunculkan dorongan untuk ikut membeli atau datang, meski belum tentu dibutuhkan. Penelitian Miliyantri Br Pinem dan tim mencatat bahwa mahasiswa kerap terdorong berbelanja impulsif karena takut kehilangan kesempatan atau merasa tertinggal dari teman sebaya (Pinem et al., 2024). Singkatnya, banyak yang kena jebakan checkout now, regret later.
Di tengah kondisi tersebut, kemampuan menentukan prioritas jadi makin penting. Mahasiswa yang mampu memilah mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan akan lebih siap menghadapi tekanan sosial digital. Sebaliknya, mereka yang terus mengejar validasi dari dunia maya rentan kelelahan secara mental maupun finansial.
Kehidupan kampus sejatinya bukan perlombaan untuk selalu paling up to date. Tidak semua tren harus diikuti, tidak semua unggahan perlu dibandingkan, dan tidak semua notifikasi wajib dibuka saat itu juga. Kadang, menaruh ponsel sejenak dan menyelesaikan satu tugas tepat waktu jauh lebih worth it daripada mengetahui semua hal yang sedang viral.
Sebab pada akhirnya, yang benar-benar tertinggal bukan mereka yang melewatkan tren, melainkan mereka yang kehilangan arah karena terlalu sibuk mengejar hal-hal sementara.
Editor: Aditya Kurniawan (20), Putri Rissyafni (21), Ferdina Amalia (23), Agus Dwi (27), Azimmatuz Zahro (28), Ifatul Mardiyah (31)









