Organisasi Pengabdian, Benarkah?

""
1610858_889402351103802_2971455450063422680_n

Ilustrasi

PortalArjunaJatim. Ucapan selamat dan sukses penulis haturkan, mengiringi perombakan organisasi kampus, kongres Hima Prodi, kongres OMEK serta lahirnya UKM Unit Kegiatan Mahasiswa seperti Resimen Mahasiswa, Pagar Nusa Yudharta, Study Lingkungan Hidup, Racana Praja muda karana etc, di kampus merah Universitas Yudharta Pasuruan. Tidak ketinggalan pula menginjak usia ke-13 yang sebentar lagi akan diperingati, Yudharta berencana untuk meresmikan program pasca sarjana Program Study Pendidikan Agama Islam berbasis Multikultural. Hal ini dilakukan bukan lain urgensinya adalah untuk mengabdi wa maa kholaqtu zina wal insya ilaa liya’budun dalam mengejawantahkan Tri Dharma perguruan tinggi. Bukankah demikian?

Tak sedikit memang organisasi yang lahir dengan tujuan utama mengabdi. Selain yang penulis sebutkan diatas termasuk organisasi-organisasi keagamaan, NU, Muhammadiyah, dari partai politik, Demokrat, PKB etc, Lembaga Swadaya Masyarakat dan sebagainya. Mereka semua berdiri dengan misi mulia yakni sebuah pengabdian. Namun berapa lama kah tujuan itu bertahan? Dari kaca mata penulis terlihat bahwa semakin besar dan banyaknya anggota organisasi, maka semakin banyak pula kegiatan yang diprogramkan. Implikasinya segala kesibukan dalam mewujudkan suatu planing kegiatan, terkadang membuat mereka hanya focus terhadap pencapaian hasil tapi tak peduli, bahkan melupakan esensi hakiki dari organisasi yang mereka tumpangi.

Penyakit ini bukan hanya dalam satu aspek sosial akan tetapi telah menyerang ke segala aspek sosial bahwa kesibukan dalam merahi hasil yang memuaskan terkadang membuat seseorang tidak mengindahkan hakekat organiasi, ideology serta apa urgensi organisasinya. Imbasnya adalah dinamika topoksi organisasi pengabdian menjadi sekedar semacam Event Organizer. Maka perlu bagi seorang aktivis memahami barometer kesuksesan suatu organisasi semacam ini. Coba renungkan sejenak, apa yang terjadi ketika aktivis mengukur kesuksesan hanya dari prestige kewibawaan, martabat dan persaingan out group, ketika keberhasilan hanya diukur dari seberapa banyak peserta yang berpartisipasi dan banyaknya profit dari kegitan yang diimplementasikan maka hakekat organisasi tersebut sudah dikuburkan alias The End.

Penulis menegaskan bahwa sebuah organisasi semacam ini labuda hukumnya memiliki pemahaman yang dalam atas semua tindakannya, tidak sekedar menjalankan program tanpa makna dan hanya memuaskan nafsu dalam pencapaian target terlaksananya program kerja masa bahktinya. Ibarat Mumi yang jasad fisiknya masih ada namun jiwanya telah menghilang. Oleh sebab itu sangat penting diklat pendidikan dan latihan terhadap anggotanya. Diklat yang dimaksud bukan sebatas pendidkan tentang prilaku dan hasil, melainkan perlu juga pendidikan ideology dan landasan organisasi, hal ini harus dilakukan agar organisasi bukan hanya ada secara formalitas fisik., tetapi juga hadir ruhnya secara kualitas sehingga wujudlah organisasi pengabdian dhohiron wa batinan.

Karena, tak sedikit orang yang menjustifikasikan dirinya sebagai aktifis, tetapi mereka tak ada beda dengan orang-orang apatis. Mereka merasa bangga diri, karena dapat menjadi bagian dari organisasi besar namun mereka tak sadar, disana mereka tak sebesar kerikil dijalanan. Mereka senang mengatakan bahwa telah berpartisipasi menjadi panitia dalam kegiatan besar, sayangnya mereka hanya sekedar ikut-ikutan tanpa mengerti makna dan tujuan, bahkan mereka sekedar menjadi pekerja murahan ala kadar. Inikah yang dibilang organisasi pengabdian.

Dalam organisasi pengabdian organisasi anggotanya tidak boleh dilihat sebatas sebagai sebuah pekerja untuk mencapai tujuan, tetapi sebagai orang yang akan bekerja bersama dalam mewujudkan visi misi bersama. Sehingga individu-individu dalam organisasi akan benar-benar paham atas segala sesuatu yang terjadi dan menjadi benar-benar bermakna secara kaffa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.