TINGKATKAN CITRA YUDHARTA ATAS TRAGEDI SARINAH

""

Portalarjuna.net-Dalam diskursus perkembangan pemikiran Islam kontemporer, isu radikalisme agama, terorisme,multikulturalisme, dan pluralisme menjadi isu penting dalam dua dasawarsa terakhir ini. Pasalnya Banyak kasus yang dapat dirujuk, seperti yang dimuat dalam Metrotvnews.com, Lebih dari 100 orang tewas dalam serangan bom mobil bunuh diri ISIS di kota Irak ketika warga merayakan hari raya Idul Fitri. Sabtu (18/7/2015). di LONDON, Hasil penelitian International Center for the Study of Radicalisation (ICSR) dan BBC mengungkapkan, pada November 2014, sebanyak 5.042 orang tewas oleh kelompok militan. Bahkan banyak pula wartawan yang menjadi korban dari Radikalisme ISIS diantaranya, Kenji Goto, wartawan asal Jepang, ini dipenggal kepalanya pada Januari 2015, Pada 2014, ISIS juga mengeksekusi mati James Foley dan Steven Sotloff, wartawan asal Amerika Serikat. Dan ISIS dilaporkan telah mengeksekusi sebanyak 17 wartawan Irak dan Suriah. Mereka adalah bagian dari 80 wartawan yang diculik sejak 2011. dan yang lebih aktual bahwa ISIS pada Jumat 13 November 2015 ISIS kembali meneror paris sebagaimana dalam jawapos edisi selasa 16/11/2015 terdapat 150 nyawa melayat dan ratusan korban luka-luka.
Di Indonesia isu radikalisme, terorisme dimulai tahun 2000 dengan terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta (BEJ), diikuti dengan empat serangan besar lainnya, dan yang paling mematikan adalah Bom Bali I yang terjadi pada tahun 2002, tiga ledakan yang mengguncang Bali dengan 202 korban mayoritas warga negara Australia yang tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Kemudian Bom Bali II, terjadi pada 1 Oktober 2005. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di Kuta Square, dan di Nyoman Café Jimbaran. Dan masih banyak lagi fenomena terorisme diindonesia salah satunya yang masih hangat diperbincangkan adalah tragedi sarinah Jakarta 14/01/2016 yang membawah banyak korban termasuk pelaku terror sendiri yang diduga bagian dari komplotan militan ISIS.
Melihat realita tersebut, sudah sepatutnya Yudharta membangun, meningkatkan brand image sebagai kampus multicultural dengan melakukan aksi dan komunikasi, sebab merujuk kepada fakta sejarah Yudharta yang secara terbuka berani menentang gerakan radikalisme, dibuktikan dengan komunikasi yang mengarah terhadap tindakan deradikalisme termasuk beberapa resolusi yang telah diterbitkan, melakukan kegitan social, seminar kebangsaaan,bersilaturahmi antar tokoh lintas agama dengan misi Perdamain Dunia sebagai wujud respon baik Yudharta menolak radikalisme. Maka ini perlu digerakan ulang, untuk meningkatkan citra positif Yudharta. Implementasi perdamian dunia yang disimbolkan dengan the multicultural, harus senantiasa dilestarikan, sebab dunia sangat membutuhkan kampus islam berbasis multicultural, mengingat menjamurnya penyakit islam phobia, dan minoritas kaum muslim didunia barat yang semakin tertekan dan tertindas.
Bagi Yudharta pengimplementasian jargon the multicultural university tentu butuh tahapan dan proses panjang,serta cost yang tak terhitung nilainya. Apalagi melihat Yudharta yang berdiri sejak 2002 ini tentu harus banyak belajar menuju kedewasaan dengan meningkatkan citranya sebagai kampus bernuasa multibudaya ditengah konflik radikalisme dunia. Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan adalah tragedy teroris sarinah yang banyak menggugah simpati masyarakat Indonesia, jika Yudharta peka dan respon dengan peluang ini penulis yakin kampus ini akan melocit jauh dikenal orang awam sekalian. Oleh sebab itu seyogyanya sebagai kader kampus tersebut mahasiswa harus memahami pesan multicultural yang menjadi brand image dengan mengajukan beberapa pertanyaan diantaranya apakah kontruksi makna multicultural/pluralisme bagi Yudharta? apakah hanya sekedar label semata?, Atau hanya sekedar perang konsep dan pemikiran untuk merebut pangsa pasar?atau hal itu hanya sekedar symbol untuk membangun kredebilitas atas pengabdian kampus yang katanya tanpa pamrih? Atau mungkinkah jika multicultural yang diusung yudharta searah dengan persepsi penulis, jika demikian beranikah Yudharta mendirikan Program Studi Agama Kristen, Prodi Agama Hindu, Budha, Konghucu dll? mohon sejenak renungkan untuk kampus yang lebih progresif. salam mahasiswa

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.