Bagaimana Nasib Madin dalam Program Wajib Madin?

""

Portalarjuna.net- Madrasah Diniyah (MaDin) adalah lembaga pendidikan berbasis keagamaan termasuk dalam kategori sekolah non-formal yang diharapkan mampu secara terus-menerus memberikan pendidikan islam kepada anak didik yang tidak terpenuhi dalam sekolah formal biasanya dan terdiri dari Awwaliyah, Wustho dan Ulya. Di Kabupaten Pasuruan, program wajib  madin bagi pelajar muslim telah berjalan setahun terakhir. Program ini diatur melalui Peraturan Bupati Pasuruan Nomor 21 Tahun 2016. Lantas, bagaimana realisasi dari program ini sebenarnya?

Saat ini tercatat lebih dari 122.726 siswa tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang mengikuti wajib madin. Para santri Madin ini belajar di 1439 lembaga yang tersebar dalam 24 kecamatan di Kabupaten Pasuruan. Madrasah Diniyah biasanya merupakan swadaya masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan agama di daerahnya, sehingga kebanyakan pengelolaannya pun kurang teratur dan kurang layak. Tim Portal berhasil menemui salah satu kepala madin di kecamatan Sukorejo. (03/01/18)

“Alhamdulillah, dengan bertambahnya tahun. Kesadaran masyarakat setempat akan pentingnya madin juga meningkat. Bahkan, dari tetangga desa mau mendaftarkan anaknya ke madin, Ujar Syaihudin (37), Kepala Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Al-Iklash di Jalan SMPN 01 Sukorejo, Sukorejo, Pasuruan.

Menurut Mas Udin, sapaan akrabnya, semakin tahun masyarakat semakin sadar akan pentingnya memasukkan putra-putrinya ke madrasah diniyah selain ke sekolah formal. Madrasah Diniyah Al-Iklash sendiri awalnya hanya madrasah rintisan keluarga dengan sistem yang masih dipelajari dan kelas-kelas yang berada di dalam rumah pengajar. Siswa pun masih sedikit dengan jenjang kelas yang belum merata dikarenakan keterbatasan jumlah pengajar, ruangan, serta usia siswa. Bahkan sebelum adanya wajib madin bagi pelajar islam Pasuruan, satu-persatu berguguran karena kesibukan masing-masing.

Setelah ditetapkannya program wajib madin bagi pelajar islam di Pasuruan ini, madrasah diniyah dapat lebih tertata baik secara sarana dan prasarananya serta tenaga kependidikannya. Total santri madin Al-Ikhlas sejumlah 96 orang dengan jenjang kelas 1-5 dan 8 orang pendidik aktif dengan lulusan yang mumpuni.

Realisasi pemerintah daerah Kabupaten Pasuruan sendiri untuk program wajib madin ini ialah dengan memberikan bantuan berupa sarana-prasarana serta mempermudah birokrasi dalam hal madrasah diniyah.

Kami juga berhasil mewawancarai salah satu staf pengajar dalam lembaga ini, Wiwik (17) yang juga masih berstatus sebagai pelajar tingkat tiga di SMA. Wiwik sendiri merupakan alumni madrasah diniyah ini sendiri. Wiwik diberi tugas untuk mengajar santri kelas 1 yang terdiri dari siswa TK B sampai kelas 2 SD.

“Ya ngajar itu ilmu jadi makin bertambah mbak, kan kalau ngajar anak-anak tanya jadi  bisa belajar lagi, lalu juga bisa mengisi waktu luang biar nggak nganggur, buat menghibur diri ketemu anak-anak kecil juga. Kalau ada anak yang ramai, nakal, nangis itu sebenarnya wegah, jadi seperti menjadi guru TK. Kalau pas sekolah pulang sore ya nggak bisa ngajar, kadang ya mepet jadi nggak ada waktu istirahat. Intine sabar mbak, Tutur wiwik tentang pengalaman dan suka dukanya dalam mengajar madin.

Wiwik berkata tiap bulan ia digaji 50 ribu, kalau saat ujian sama ngoreksi juga ngisi rapot digaji 60 ribu, kalau ada kegiatan menemani anak-anak madin juga dibayar. Gaji yang diperoleh memang tidak seberapa, tetapi wiwik merasa sudah senang karena bisa mengamalkan ilmu yang dimilikinya.

Madrasah diniyah harusnya dapat sejalan dengan sekolah formal yang ada. Orangtua juga harus menyadari pendidikan agama juga penting untuk mendidik karakter dan moral anak. Melihat mirisnya moral anak pada zaman sekarang, pendidikan agama khususnya madrasah diniyah diharapkan dapat membantu memperbaiki akhlak para generasi penerus bangsa. Oleh karenya dibutuhkan kesadaran dari berbagai pihak agar pendidikan madrasah dapat lebih baik lagi, bukan hanya  pendidikan sekolah formal yang disejahterakan tetapi melupakan bahwa masih ada pendidik madrasah yang juga harus sejahtera karena tanggung jawab moral dan akhlak anak-anak berada di pundak mereka. (Vir)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.