Ungkap Kakek Bodo Sebagai Suatu Mitos atau Realitas?

""

Portalarjuna.net– Prigen, Senin (15/01/18) Kabupaten Pasuruan memiliki salah satu tujuan wisata alam yang agak jauh dari pusat kota yang masih terjaga dan memiliki panorama keindahan, yakni di daerah Tretes Prigen Pasuruan. Daerah tersebut dikenal dengan hawanya yang sejuk karena berada di lereng Gunung Arjuno dan dikelilingi oleh pepohonan hijau disepanjang jalan. Desa Tretes memiliki salah satu objek wisata air terjun yang bernama kakek bodo. Kejelasan mengenai sejarah kakek bodo masih simpang siur dibicarakan.

Menurut sebuah tulisan yang terdapat di pendopo makam kakek bodo, dikisahkan bahwa dulunya beliau adalah seorang pembantu sebuah keluarga belanda yang meninggalkan semua hal duniawi untuk mensucikan diri dengan bertapa. Karena hal yang dilakukannya ini keluarga belanda yang ditinggalkan menyebut sang kakek dengan sebutan kakek bodo (kakek yang bodoh).

Menurut sumber lain, Kakek Bodo merupakan seorang pembantu belanda yang mencintai salah satu anggota keluarga dari Belanda tersebut. Kakek Bodo lalu bertapa untuk menjadi orang belanda pula guna memantaskan diri. Di dalam pertapaannya, ia gagal untuk menjadi seorang belanda dan malah menjelma menjadi seekor macan. Hal ini yang membuat keluarga belanda tersebut menyebutnya sebagai kakek yang bodoh karena tidak pantas untuk menjadi orang belanda. Kemudian seorang sesepuh daerah Tretes yang bernama Mbah Madali menembak kaki harimau jelmaan Kakek Bodo tersebut hingga terluka karena warga Tretes merasa resah dengan adanya binatang buas yang berkeliaran. Setelah kakinya terluka macan jelmaan Kakek Bodo tadi bersumpah bahwa kelak keturunan keluarga Belanda yang ia ikuti sebagai pembantu akan cacat kakinya seperti bagian kaki yang terluka pasca ditembak oleh Mbah Madali tadi.

Dulu itu Kakek Bodo seneng sama orang belanda terus pingin  jadi orang belanda (bule), akhirnya semedi tapi bukan jadi belanda malah jadi macan. Lalu Mbah Madali selaku sesepuh orang sini yang menembak kaki Kakek Bodo karena menjadi macan dan dianggap meresahkan warga. Setelah ditembak lalu ia bersumpah kepada keluarga belanda kalau nanti keturunanmu akan kakinya cacat seperti aku atau menitis kepada anak keluarga belanda itu tadi,” jelas Khofifah salah satu warga Tretes.

Berbeda dengan pernyataan sejarah dari sebuah tulisan milik Wahyudi Kurnianto tentang “Asal-usul Desa Pecalukan dan Tretes” yang sekaligus sedikit menyinggung mengenai kisah Sang Kakek Bodo. Dalam tulisan tersebut, Kakek Bodo memiliki nama asli Triman yang bermukim di kawasan Air Terjun Sabrangan (yang sekarang bernama Air Terjun Kakek Bodo). Triman adalah sosok kakek yang baik hati dan suka menolong warga setempat dengan kesaktian yang ia peroleh dari bertapa. Karena ia adalah orang pertama yang menghuni kawasan Air Terjun Sabrangan maka setelah meninggal, masyarakat setempat mengenang jasa Kakek Bodo dengan menamakan Air Terjun Sabrangan menjadi Air Terjun Kakek Bodo dan makamnya pun ditempatkan di sebelah utara air terjun.

Semua pemaparan tersebut berbeda dengan sudut pandang ketua RT Dusun Pesanggrahan Desa Tretes yang berargumen bahwa kisah kakek bodo hanyalah fiktif atau mitos yang dilegendakan. Jika dipikir secara logis, kisah tersebut hanya dipublikasikan guna menarik perhatian pengunjung wisata air terjun saja karena selama ini tidak ada satupun anggota keluarga yang mencari atau mengunjungi makam kakek bodo.

Kalau menurut saya sih ga logis. Orang-orang sini tidak percaya bahwa itu makam tapi hanya petilasan. Jika benar adanya pasti anak cucunya mencari atau mengunjungi makamnya. air terjun yang ditemukan itu dibuat cerita kakek bodo untuk menarik perhatian pengunjung. Dan itu cuman sebuah mitos yang diangkat,” jelasnya. (Nic)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.