Sambut Tahun Baru Penanggalan Jawa, Nelayan Pesisir Pantai Kapasan Gelar Tradisi Petik Laut

""

PortalArjuna.Net – Untuk menyambut perayaan tahun baru penanggalan Jawa, nelayan di kawasan pesisir Pantai Kapasan, Kecamatan Nguling menggelar tradisi petik laut, pada Sabtu (04/06/2022).

Tradisi Petik laut atau yang biasa disebut Tradisi Larung Sesaji, merupakan sebuah upacara adat atau ritual sebagai rasa syukur kepada Tuhan, untuk memohon berkah rezeki serta keselamatan yang dilakukan oleh para nelayan. Pada umumnya, kegiatan ini diadakan di seluruh pulau Jawa.

Ritual ini diawali dengan pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan, sesaji-sesaji inilah yang nantinya akan dihanyutkan ke laut. Sedangkan para nelayan akan bergotong royong untuk menyiapkan perahu kecil atau perahu sesaji yang bentuknya mirip dengan perahu yang biasanya mereka gunakan untuk melaut. Namun bedanya pada saat upacara petik laut ini, para nelayan akan menghias perahu tersebut dengan seindah mungkin.

Selain ditepi laut, nelayan dan masyarakat juga melarung sesaji ke tengah laut menggunakan perahu kecil yang telah disiapkan para nelayan.

Selaku sesepuh nelayan, Pak Satuwi menyebutkan bahwa selain melakukan berbagai perayaan, para nelayan dan masyarakat dalam tradisi Petik Laut juga akan ikut berdo’a diatas perahu kecil.

“Para nelayan dan masyarakat yang hadir nanti akan ikut serta berdoa diatas perahu kecil. Tetapi do’a yang dipanjatkan disetiap tempat berbeda, karena sesuai dengan keinginan para nelayan di masing-masing daerah,” Jelasnya.

Pak Bunadi, selaku sesepuh nelayan lainnya menuturkan bahwa tradisi Petik Laut ini juga merupakan salah satu bagian untuk menjaga laut dari orang-orang yang ingin merusaknya.

“Dengan adanya tradisi ini, para nelayan dan masyarakat akan ikut serta dalam menjaga laut. Karena laut telah memberikan banyak limpahan rezeki bagi mereka. Tanpa laut, mereka akan kehilangan sumber mata pencaharian sehari-hari,” Ujarnya.

Perlu diketahui, bahwa nilai budaya yang terkandung dalam tradisi Petik Laut ini sangatlah besar. Unsur kekeluargaan pada tradisi ini terlihat sangat erat. Pasalnya, semua warga akan bahu-membahu dalam menyiapkan keperluan ritual. Mereka akan bersama-sama menyukseskan jalannya ritual, tidak memperdulikan kalangan atas, kalangan menengah ataupun kalangan bawah, semua dikerjakan bersama.

(MQ)

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.