
PortalArjuna.net – Lubab Al-Ghifari atau akrab dipanggil El merupakan mahasiswa semester 3 program studi Teknologi Hasil Perikanan (THPI) Universitas Yudharta Pasuruan.
Namanya semakin dikenal setelah berhasil membanggakan Universitas Yudharta Pasuruan atas kelolosannya dalam program Business Matching Produk Perikanan dan Kelautan dengan ITPC Busan, Korea Selatan.
Sering mengikuti banyak event dan program, menyebabkan El tak terlalu aktif di organisasi kemahasiswaan. Namun ia banyak membangun relasi dan jaringan di luar kampus, seperti pada Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI) Wilayah IV sebagai CO Ekonomi Kreatif. Sejak lulus SMA El sudah fokus mempelajari bisnis ekspor yang juga merupakan passionnya.
“ Mahasiswa itu tidak hanya belajar, tapi juga menata. Biar saat wisuda tidak daftar pengangguran, kecuali mereka yang sudah menata” ujarnya.
“Maha yakni Dewa yang menata kehidupan, siswa yakni pelajar. Jadi belajar sambil menata” lanjutnya.
Ia beranggapan bahwa apa yang didapatkan di Bangku perkuliahan tidaklah cukup. Sebagai Mahasiswa ia harus membranding diri sambil belajar, menguatkan mental dan meluaskan minsed di usia muda.
Bersama CV. Edi Seafood Jaya, El juga sering melakukan survei lapangan dari hulu ke hilir. Ia mengaku beruntung memiliki banyak relasi untuk bias membantu menjadi jembatan bagi rekan sejawatnya dengan Nelayan sampai Perusahaan Besar.
El memaparkan system Agregator dalam Dunia Ekspor, yakni Trader yang menggandeng perusahaan untuk meningkatkan produksi melalui pemasaran menggunakan company profile yang dibuatnya, PT. Landcofarm Indonesia.http://landcofarm.com
Tak pelit ilmu, El juga sering mengajak temannya untuk membuat produk serta melegalkannya. Ia juga melihat problem yang dialami kebanyakan UMKM adalah pasar yang sempit karena belum legalitas. Salah satu keinginannya yang belum terwujud ialah menggelar sebuah Event Ekspor di Universitas Yudharta Pasuruan. Hal ini diharapakan karena kebutuhan perusahaan dalam bidang marketing. Jika mahasiswa mempunyai pengetahuan dalam bidang tersebut, tentu akan sangat dihargai dan di butuhkan oleh banyak perusahaan. Dari sekian banyak kelompok UMKM dan pengusaha, jarang sekali yangmau fokus pada Komoditas Laut Indonesia karena dianggap sulit, ribet dan sebagainya.
“Kalau bukan Mahasiswa siapa lagi yang mendengar keluh kesah nelayan, yang ikut berperan menstablikan harga di pasar lokal dan menjaga komoditas laut Indonesia ??“ ungkapnya.
Kemungkinan terburuknya, tidak ada Perusahaan milik orang Indonesia yang dapat mengolah hasil sumber dayanya sendiri hingga semua dikuasai pasar asing. Jadi harus ada yang mau capek dari sekarang, sakit-sakitan dari sekarang” ujarnya sebagai penutup.
(Ang)










