Portalarjuna.net, Pasuruan – Pagi masih enggan menyapa ketika Diki Syahrul Yudistira terbangun di teras sebuah rumah kosong di Kecamatan Purwodadi. Dengan lantai dingin tanpa alas, remaja 18 tahun ini memulai hari seperti biasa. Rumah tak berpenghuni ini menjadi tempat persinggahan sementara baginya. Sejak meninggalkan keluarganya akibat perpisahan orang tua, Diki telah menjalani hidup di jalanan selama empat tahun terakhir.
Setelah membasuh wajahnya dengan air seadanya, Diki berjalan menuju trotoar yang mulai ramai dengan aktivitas pagi. Di sana, ia bertemu teman-teman sesama anak jalanan. Mereka berbincang dan bercanda, mengusir penat sebelum memulai hari. “Yang bikin saya kuat itu teman-teman. Kita saling hibur meskipun hidup begini,” katanya sambil tertawa kecil.
Menjelang siang, Diki memulai rutinitasnya: mengamen. Dengan gitar kecil yang sudah mulai usang, ia bernyanyi dari satu tempat ke tempat lain, termasuk di pasar dan persimpangan jalan. “Hasilnya nggak pasti, kadang cuma cukup buat makan sekali. Tapi ya, saya syukuri aja,” ujarnya. Meski sering menghadapi tatapan sinis atau penolakan, Diki tetap bersikap sopan kepada setiap orang yang ia temui.
Saat malam menjelang, Diki kembali ke teras rumah kosong tempat ia tidur. Di bawah redupnya lampu jalan, ia menghitung recehan hasil mengamennya. Sesekali ia menghela napas panjang, tapi senyuman tetap terlukis di wajahnya. “Hari ini cukup buat makan dua kali. Alhamdulillah,” tuturnya pelan.
Meski hidupnya penuh tantangan, Diki tak kehilangan harapan. Ia memiliki mimpi sederhana: bisa mendapatkan pekerjaan dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Namun, ada hal yang membuatnya sedih. “Orang sering memandang saya sebelah mata. Padahal, kita juga punya mimpi dan usaha,” katanya dengan nada lirih.
Pesannya kepada masyarakat sangat sederhana namun penuh makna, “Jangan memandang rendah orang lain. Kita nggak tahu apa yang mereka alami.”
Bagi Diki, hidup di jalanan adalah perjuangan tiada henti. Namun, ia percaya, seperti malam yang selalu berganti pagi, harapan akan selalu datang, seberat apa pun jalan yang harus ia tempuh.
Author : Eka Suryanti










