Portalarjuna.net, 19 Desember 2024 – Pameran tunggal bertajuk “Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan” karya seniman Yos Suprapto yang rencananya digelar di Galeri Nasional Jakarta mendadak batal dibuka. Para pengunjung yang hadir pada malam pembukaan harus menelan kekecewaan setelah pintu ruang pameran digrendel dan lampu-lampu dimatikan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Menurut Yos Suprapto, pembatalan ini berawal dari permintaan kurator Galeri Nasional, Suwarno Wisetrotomo, agar lima dari 30 lukisan yang dipamerkan diturunkan. Namun, Yos menolak mentah-mentah permintaan tersebut.
Kelima lukisan tersebut diketahui menggambarkan sosok yang pernah sangat populer di masyarakat Indonesia, yang diduga menjadi alasan kontroversi. “Saya rasa itu ekspresi kurator yang takut secara berlebihan,” ujar Eros Djarot, seorang seniman dan budayawan yang dijadwalkan membuka acara tersebut. Dikutip dari akun X @triwul82.
Oscar Motulloh, fotografer profesional sekaligus pengamat seni, menyebut insiden ini sebagai pembungkaman ekspresi di dunia seni rupa. “Ini adalah pembredelan pameran seni rupa pertama di era Prabowo Subianto,” tegasnya, mengkritik keras keputusan pihak Galeri Nasional. Dikutip dari akun X @triwul82.
Yos Suprapto mengungkapkan kekecewaannya atas sikap Galeri Nasional dan menegaskan tidak akan berkompromi terkait karyanya. “Jika kelima lukisan itu harus diturunkan, saya memilih membatalkan pameran ini sepenuhnya. Semua lukisan akan saya bawa pulang ke Yogyakarta,” ujar Yos. Dikutip dari akun X @triwul82.
Pameran yang dipersiapkan selama lebih dari satu tahun ini seharusnya menjadi medium bagi Yos untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya kedaulatan pangan dan penghormatan terhadap tanah sebagai sumber kehidupan. Namun, harapan itu pupus akibat polemik yang terjadi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Galeri Nasional maupun Kementerian Kebudayaan belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Para pecinta seni yang sudah menanti-nantikan pameran ini berharap ada titik terang yang dapat mengakomodasi kebebasan berekspresi tanpa mengorbankan nilai-nilai demokrasi dan seni itu sendiri.
Author: Ifatul mardiyah









