Portalarjuna.net, Pasuruan – Sungai memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Di Kabupaten Pasuruan, sungai bukan hanya menjadi sumber air untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari lanskap alam yang mendukung ekosistem dan kehidupan sosial warga. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan banyaknya sungai yang berubah fungsi menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga maupun limbah industri kecil. Kondisi ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan warga dan menyebabkan gangguan serius pada aliran air.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, Dinas Sumber Daya Air dan Tata Ruang Kabupaten Pasuruan meluncurkan kampanye “Zero Sampah di Sungai.” Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai, serta membangun gerakan kolektif yang melibatkan berbagai pihak dalam menjaga kelestarian sumber daya air. Kampanye ini tidak hanya berfokus pada penanganan sampah yang sudah ada, tetapi juga menekankan pada perubahan perilaku masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan akhir.
Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, kampanye ini menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, pemuda, kelompok tani, hingga pelaku usaha kecil di sekitar sungai. Dinas secara aktif menyebarkan informasi melalui media sosial, membuat video pendek dan infografis yang mudah dipahami, serta mengadakan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah dan desa-desa. Tujuan utamanya adalah membentuk pemahaman bahwa menjaga kebersihan sungai adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah semata.
Sebagai bagian dari kampanye ini, berbagai kegiatan nyata telah dilakukan. Aksi bersih sungai dilakukan secara rutin setiap bulan dengan melibatkan komunitas lingkungan dan relawan lokal. Selain itu, Dinas juga menyediakan fasilitas pendukung seperti tempat sampah dan papan informasi yang dipasang di lokasi-lokasi strategis di sepanjang bantaran sungai. Pemerintah daerah bahkan mendorong terbentuknya program “Adopsi Sungai,” di mana sekolah-sekolah dan organisasi masyarakat mengelola dan merawat segmen sungai tertentu secara berkelanjutan. Ini menjadi cara yang efektif untuk menanamkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab sejak dini, terutama kepada generasi muda.
Tidak hanya berhenti pada kegiatan pembersihan dan edukasi, kampanye ini juga mendorong perubahan sistem pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. Warga diajak untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik, memanfaatkan kembali barang-barang bekas, serta tidak membuang limbah cair atau plastik ke saluran air. Kesadaran ini pelan-pelan mulai tumbuh, terlihat dari meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebersihan dan diskusi lingkungan yang diselenggarakan secara swadaya.
Tentu, kampanye ini tidak berjalan tanpa hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah kebiasaan masyarakat yang sudah terbentuk sejak lama. Banyak warga yang belum memiliki akses ke sistem pengelolaan sampah yang layak, sehingga membuang sampah ke sungai dianggap sebagai pilihan paling praktis. Namun, melalui pendekatan yang persuasif dan konsisten, perubahan mulai terlihat. Semakin banyak warga yang aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan mereka, dan jumlah sampah yang dibuang ke sungai pun perlahan menurun.
Kampanye “Zero Sampah di Sungai” membuktikan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Terkadang, langkah kecil seperti tidak membuang plastik ke sungai atau mengajak tetangga membersihkan selokan bersama bisa menjadi awal dari transformasi besar. Dinas Sumber Daya Air dan Tata Ruang Kabupaten Pasuruan percaya bahwa sungai yang bersih mencerminkan masyarakat yang sehat dan peduli. Harapannya, kampanye ini bukan hanya menjadi program sementara, tetapi menjadi gerakan jangka panjang yang mengakar kuat dalam budaya masyarakat Pasuruan.
Sungai yang bersih adalah hak semua orang, dan menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama. Mari mulai dari sekarang, dari rumah sendiri, dari tindakan kecil yang bisa kita lakukan setiap hari. Karena ketika kita menjaga sungai, kita sebenarnya sedang menjaga kehidupan kita sendiri dan generasi yang akan datang.
Author: Ifatul Mardliyah – DKK











