PortalArjuna.net, Pasuruan – Seorang pedagang mangga berusia 59 tahun asal Wonorejo, Pasuruan, setiap hari mencari nafkah dengan berjualan di Pasar Lawang. Ia membeli mangga dari pemasok sebelum menjualnya kembali kepada pelanggan pasar. Ibu Sud mengatakan bahwa pekerjaan ini sudah lama ia jalani. “Saya jualan mangga dari hasil beli ke orang, lalu saya jual lagi di pasar,” ujarnya (21/11/2025).
Ibu Sud memulai aktivitasnya sejak pagi hari untuk mendapatkan pembeli lebih awal. Ia menata dagangannya di trotoar dengan perlengkapan sederhana yang dimilikinya. Ia mengaku tidak memiliki lapak tetap sehingga harus mencari tempat yang aman dan tidak mengganggu pejalan kaki. “Yang penting bisa jualan, supaya ada pemasukan buat keluarga,” katanya.
Selain berdagang, Ibu Sud bekerja sebagai buruh tani ketika tidak berada di pasar. Ia membantu menggarap sawah milik orang lain sebagai tambahan penghasilan. Suaminya juga bekerja sebagai buruh tani, sehingga keduanya sama-sama menggantungkan hidup pada pekerjaan serabutan. “Kalau tidak jualan ya saya ke sawah, suami saya juga begitu,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan ekonomi, Ibu Sud tetap berupaya menyekolahkan ketiga anaknya. Dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dan satu lainnya sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Ia mengakui bahwa biaya pendidikan cukup besar, namun ia tidak ingin anak-anaknya berhenti sekolah. “Yang penting anak-anak bisa sekolah, itu yang buat saya terus semangat,” ujarnya.
Kisah Ibu Sud mencerminkan perjuangan kaum marjinal dalam memenuhi kebutuhan hidup melalui sektor informal. Meskipun pendapatan tidak selalu stabil, ia tetap mempertahankan semangat untuk bekerja. Kondisinya menunjukkan betapa pentingnya peran pedagang kecil dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Perjuangan Ibu Sud menjadi gambaran nyata ketangguhan perempuan pekerja dalam menghadapi tekanan hidup sehari-hari.
Author:Shela Syvanaya F









