Portalarjuna.net, Pasuruan – Di balik ramainya aktivitas Pondok Pesantren Ngalah, terdapat sebuah warung kopi sederhana yang menjadi tempat beristirahat para santri saat waktu luang. Warung itu dikelola oleh Ibu Fatimah (37), seorang perempuan dari kelompok marjinal yang tetap tegar menjalani hidup melalui usaha kecilnya.
Setiap hari, Ibu Fatimah membuka warung sejak pagi hingga malam. Dengan meja kayu sederhana, beberapa bangku, dan deretan minuman sachet yang digantung rapi, warung kecil itu menjadi tempat favorit para santri untuk sekadar menikmati kopi hangat, minuman ringan, atau berbincang santai di sela aktivitas pesantren.
Meski fasilitasnya terbatas, warung Ibu Fatimah menawarkan harga yang sangat terjangkau. Para santri menyebutnya sebagai “tempat singgah yang ramah dompet”. Menu-menu seperti kopi, teh, energen, hingga minuman dingin disajikan tanpa banyak basa-basi, namun tetap membawa kenyamanan bagi para pelanggan mudanya.
Ibu Fatimah terus berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya meskipun dengan pendapatan yang tak menentu. Ia tetap berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi para santri yang setiap hari mampir ke warungnya.
“Aku cuma ingin tetap bisa bertahan dan bantu keluarga,” kata Ibu Fatimah saat ditemui di sela aktivitasnya. Sambil mengecek pesan di ponselnya, ia tetap sigap melayani pembeli yang datang silih berganti.
Keberadaan warung kecil ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi Ibu Fatimah, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di lingkungan pesantren. Banyak santri yang merasa keberadaan warung tersebut membantu mereka melepas penat tanpa harus keluar jauh dari area pondok.
Di tengah tantangan ekonomi yang semakin sulit, Ibu Fatimah membuktikan bahwa usaha kecil pun dapat menjadi pijakan kuat bagi masyarakat marjinal untuk terus bertahan. Warung kopinya bukan sekadar tempat minum, tetapi simbol keteguhan seorang perempuan dalam memperjuangkan kehidupan.
Author: Isy Sabela Mardliyah





