Portalarjuna.net, Lawang – Di pinggir trotoar Pasar Rakyat Lawang, Malang. Seorang pedagang kaki lima tampak sibuk menata aneka perkakas di atas bentangan terpal seadanya. Ia adalah Budi (43), warga Porong Lawang, yang sudah sekitar lima tahun mengandalkan lapak kecil ini untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Setiap hari Pak Budi tiba lebih awal untuk mempersiapkan dagangannya. Berbagai alat seperti obeng, gergaji, kunci pas, hingga peralatan rumah tangga ia susun rapi agar mudah dijangkau oleh pembeli. Tanpa kios permanen dan hanya bermodalkan ruang kecil di tepi jalan, ia tetap berjualan meskipun kondisi cuaca sering tidak bersahabat. “Yang penting bisa buat kebutuhan anak-anak. Walaupun sederhana, tetap saya jalani,” katanya sambil memeriksa perkakas yang dijualnya.
Keberadaan Pak Budi mencerminkan realitas pedagang informal yang termasuk kelompok marjinal di lingkungan pasar. Minimnya fasilitas dan tidak adanya ruang resmi membuat mereka harus berjuang keras untuk menarik perhatian pengunjung pasar yang padat dan dinamis.
Meski demikian, Pak Budi tetap melayani tiap pembeli dengan sabar. Ia juga terus menata ulang dagangannya agar tetap menarik, mengandalkan kantong dan tas besar sebagai tempat penyimpanan stok barang. Dari lapak sederhana inilah ia menopang ekonomi keluarganya.
Pak Budi berharap suatu saat ada perhatian lebih terhadap pedagang kecil, terutama fasilitas tempat berjualan yang lebih aman dan layak. “Kalau ada tempat tetap, kami bisa bekerja lebih tenang,” ujarnya.
Kisah Pak Budi menggambarkan bagaimana banyak pekerja sektor informal bertahan hidup di tengah kesemrawutan pasar tradisional. Di balik lapak kecil yang tampak sederhana, ada tekad dan kerja keras yang besar demi keberlangsungan hidup dan harapan masa depan yang lebih baik.











