Pasuruan, Jawa Timur
Sabtu, 7 Maret 2026

Senyum yang Tak Pernah Padam: Kisah Perjuangan Pak Paimun, Penjual Es Lilin Keliling di Usia Senja.

Portalarjuna.net, Pasuruan – Di tengah gempuran jajanan modern yang semakin marak, semangat seorang kakek penjual es lilin keliling bernama Paimun (79) tetap tak pernah padam. Setiap hari, sejak pagi hingga siang, ia memikul kotak es tuanya menyusuri Pasar Rakyat Sukorejo Pasuruan, demi menyambung kehidupan.

 

Pagi Hari Yang Selalu Dimulai Dengan Keteguhan.

Setiap malam sebelum berjualan, Pak Paimun dengan telaten menyiapkan puluhan es lilin buatannya sendiri. Bahan-bahan sederhana ia racik di rumahnya di Dusun Gendol Sukorejo, lalu ia simpan ke dalam lemari es tua yang telah menemaninya puluhan tahun.

Keesokan paginya, tepat pukul 07.00, lelaki berusia 79 tahun itu memikul kotak es berwarna kusam miliknya. Ia mulai berjalan dari pasar Sukorejo hingga menuju kawasan Palang, rute yang sama yang telah ia jalani sejak tahun 1990-an. Meski usianya tak lagi muda, langkahnya tetap mantap. Dengan pakaian dan topi sederhana, ia menyusuri jalanan pasar yang mulai ramai oleh aktivitas warga setiap paginya.

 

Istirahat Sejenak Setelah Jarak yang Panjang.

   

Setelah berjalan cukup jauh, Pak Paimun sesekali akan berhenti untuk sekadar duduk di pinggir trotoar. Napasnya terlihat teratur namun melelahkan, namun senyumnya tak pernah hilang. Sambil beristirahat, ia menunggu, berharap ada pembeli yang datang mendekat.

Harga es lilin yang ia tawarkan pun sangat murah, hanya Rp2.000 per batang. Pendapatan Pak Paimun pun jauh dari kata stabil. Dalam sehari, ia hanya bisa membawa pulang sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000. Penghasilan yang tidak pernah sekalipun membuatnya mengeluh.

 

Melayani Pembeli Dengan Senyum yang Tulus.

Saat seorang pembeli akhirnya datang, Pak Paimun selalu menyambut dengan senyum lembut dan ramah. Garis keriput di wajahnya menggambarkan perjalanan panjang hidup yang tak mudah. Di balik senyumnya, mungkin tersembunyi rasa lelah, namun tidak sedikit pun mengurangi ketulusannya dalam melayani pelanggan. Saat berjualan, Pak Paimun tidak selalu selesai di jam 14.00 siang. Apabila kondisi sedang tidak mendukung, Pak Paimun akan pulang berdagang lebih awal.

“Kalau hujan ya pulang lebih cepat. Kadang kalau esnya habis, ya langsung pulang, Nak,” tuturnya.

Ketika hujan turun, langkahnya terhenti. Bukan karena lelah, tetapi karena cuaca yang sedang tidak bersahabat. Namun di hari-hari cerah, ia terus berjalan tanpa mengeluh meski terik matahari menyengat tubuhnya. Di tengah berkembangnya makanan modern dengan berbagai varian rasa dan bentuk, es lilin sederhana miliknya tetap menjadi bagian dari jejak perjuangan hidup. Bagi sebagian orang, es lilin hanyalah jajanan murah. Namun bagi Pak Paimun, ini adalah sumber penghidupan daan sumber harapan.

Kisahnya bukan sekadar tentang menjual es lilin. Ini adalah cerita tentang keteguhan seorang pekerja yang tetap berjuang meski usia terus menua. Senyum Pak Paimun adalah senyum keberanian. Senyum yang mengajarkan bahwa hidup, betapapun sulitnya, tetap pantas diperjuangkan.  Perjalanannya setiap hari adalah gambaran nyata tentang bagaimana semangat bisa bertahan jauh lebih kuat dibandingkan tubuh yang terus melemah.

Author                         : Putri Rissyafni

Fotografer                   : Putri Rissyafni

Co – Fotografer           : Ferdina Amalia

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial