Pasuruan, Jawa Timur
Kamis, 5 Maret 2026

Tutut Hariyadi, Seorang Tukang Tambal Ban yang Tetap Bekerja Meski Usia Tak Lagi Muda

Portalarjuna.net, Pasuruan — Di bawah terik matahari di pinggir Jalan Perempatan Plumbon, Kecamatan Pandaan, seorang pria lanjut usia tampak tekun menambal ban sepeda motor pelanggan. Lelaki itu bernama Tutut Hariyadi (64), seorang tukang tambal ban yang telah menjalani pekerjaan ini sejak tahun 2009.

Tutut mulai bekerja sebagai tukang tambal ban setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di salah satu pabrik pada tahun 2008. “Emang keahliannya begini, sudah pernah ke pabrik dulu, tapi terkena salah satu dari PHK massal pada tahun 2008, istirahat setahun, lalu beralih ke profesi tambal ban,” tuturnya saat ditemui, Selasa (26/10).

Meski pekerjaan ini tidak menentu, Tutut tetap menjalaninya dengan sabar. Ia mengaku senang ketika banyak pelanggan yang datang, namun tetap menerima bila sedang sepi. “Kalo rame seneng, kalo sepi seadanya yang dimakan. Jenenge rejeki gak kenek diatur,” ujarnya.

Sebelum menjadi tukang tambal ban, Tutut memiliki pengalaman berkesan ketika bekerja di pabrik, terutama karena pernah mendapat tugas sebagai pengemudi forklift. “Suka karena kebagian driver forklift,” kenangnya.

Untuk menjaga kesehatan di usianya yang tak lagi muda, ia rutin mengonsumsi jamu setiap minggu. “Seminggu sekali jamu,” katanya.

Meski bekerja di pinggir jalan dengan penghasilan tidak menentu, Tutut menyimpan harapan besar untuk masa depan anaknya. Ia ingin sang anak menempuh pendidikan setinggi mungkin agar dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding dirinya. “Awak dewe masa depan kanggo anak tok, bapak nyambet gawe ngene iso nyekolakno anak seng dukur, iso kuliah wes alhamdulillah, anakku ojok sampek koyok aku, wongtuwane ijazah SD, anak e lk iso kudu luweh teko bapak e,” ujarnya.

Tutut mengaku keluarganya selalu memberi dukungan penuh terhadap pekerjaannya, selama itu halal dan bisa membantu kebutuhan rumah tangga. “Didukung keluarga sebisanya daripada nganggur,” ungkapnya.

Di tengah kerasnya kehidupan dan usia yang terus menua, Tutut terus bekerja setiap hari. Baginya, semua jerih payah ini bermuara pada satu cita-cita sederhana: melihat anaknya meraih pendidikan lebih tinggi dan kehidupan yang lebih baik.

Author: Hikmah Cahyo S.

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial