Portalarjuna.net, Pasuruan – Di tengah hiruk-pikuk Pasar Purwosari, aroma gurih kuah bakso menggoda dari sebuah gerobak sederhana milik Bapak Subandi(75), pedagang bakso asal Ponorogo yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya dari dagangan ini. Dengan senyum ramah dan tangan cekatan, beliau melayani para pembeli yang silih berganti datang.
Bapak Subandi(75) berdiri di belakang gerobaknya, meracik semangkuk bakso panas untuk pelanggan pasar. Uap kuah mengepul, menandai kesegaran dan kehangatan yang selalu menjadi ciri khas dagangannya. Meski berada di sudut pasar, gerobak bakso Subandi tidak pernah sepi pelanggan.
Setiap pagi, sejak matahari belum tinggi, Bapak Subandi sudah mulai menyiapkan bahan-bahan dagangannya. Perjalanan dari Ponorogo ke Pasuruan dulu bukan hal mudah, namun semangatnya untuk mencari rezeki membuat beliau bertahan. Kini, baksonya dikenal banyak pembeli karena rasa kuahnya yang khas dan harganya yang terjangkau bagi semua kalangan.
“Yang penting pelanggan puas. Kalau mereka kembali lagi, itu sudah rezeki bagi saya,” ujar Bapak Subandi(75) sambil tetap mengaduk panci bakso besar yang menjadi pusat perhatiannya.
Di tengah modernisasi yang terus bergerak, pedagang tradisional seperti Bapak Subandi(75) menjadi pengingat bahwa ketekunan dan kehangatan pelayanan adalah resep yang tidak pernah lekang oleh waktu. Di Pasar Purwosari, semangkuk bakso bukan hanya makanan—tetapi juga cerita perjuangan.
Author: Akhmad Rizqi Mustofa













