Pasuruan, Jawa Timur
Rabu, 8 April 2026

Dari Inisiatif Bupati hingga Ikon Wisata Religi: Kisah Masjid Cheng Hoo Pandaan

Portalarjuna.net, Pandaan – Pagi itu, tepat pukul 10.00 WIB, langkah kaki menyusuri halaman Masjid Cheng Hoo Pandaan kamis (25/12/25) terasa begitu hening. Udara pagi yang sejuk berbaur dengan hembusan angin ringan, namun kesunyian menyelimuti bangunan megah nan eksotik ini. Tidak terlihat satu pun pengunjung yang datang, bahkan petugas masjid pun tak tampak di sekitar. Dengung suara kendaraan di kejauhan seolah menjadi irama sunyi yang menemani suasana damai.

Masjid Muhammad Cheng Hoo di Pandaan memang bukan masjid biasa. Dibangun atas inisiatif KH. Jusbakir Aldjufri, Bupati Pasuruan saat itu pembangunannya dimulai pada sekitar tahun 2004 dan rampung pada 2008. Sejak awal, masjid ini diniatkan sebagai simbol akulturasi tiga budaya: Tiongkok, Jawa, dan Islam. Lebih dari itu, pendiriannya menjadi bentuk penghormatan kepada Laksamana Cheng Hoo, seorang tokoh Muslim Tiongkok yang pernah berlayar ke Nusantara dan menjadi jembatan peradaban antara dua bangsa.

pada hari itu tampak sunyi. Namun, di balik keheningan itu tersimpan kisah panjang yang menghubungkan nilai budaya, sejarah, dan cita-cita besar dari sebuah komunitas. Masjid Cheng Hoo memang memiliki arsitektur yang berbeda dari masjid pada umumnya. Mengusung desain khas Tionghoa, lengkap dengan atap melengkung dan ornamen naga, masjid ini memperlihatkan perpaduan harmonis antara estetika budaya Tionghoa dan fungsi keagamaan Islam. Keunikan ini bukan hanya menarik perhatian wisatawan, tetapi juga menjadi saksi bisu dari perjalanan sejarah bernuansa multikultural yang melekat di Pandaan.

Bupati Pasuruan saat itu memotivasi pembangunan masjid sebagai bentuk penghormatan pada Laksamana Cheng Hoo, tokoh Muslim Tionghoa yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Indonesia dan Asia Tenggara. Melalui masjid ini, masyarakat diajak untuk mengenang warisan budaya yang mengajarkan nilai toleransi, kedamaian, dan kerjasama.

Di tengah era modern yang serba cepat dan penuh dinamika, Masjid Cheng Hoo tetap menjadi tempat yang mengingatkan banyak orang akan pentingnya keselarasan hidup berdampingan. Konsep Sapta Pesona aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan menggambarkan nilai-nilai yang ingin dihidupkan dari masjid ini. Keunikan dan ketenangan suasananya mengundang refleksi atas makna hidup yang lebih dalam.

Dialog batin yang mungkin dialami setiap pengunjung saat melangkah masuk ke pelataran masjid mengajarkan ketenangan dan penghormatan terhadap keberagaman. Suasana yang damai memungkinkan hati untuk meresapi pesan moral bahwa agama dan budaya tidak mesti bertentangan, justru bisa bersinergi membangun harmoni sosial.

Pengalaman saat berada di Masjid Cheng Hoo mengingatkan pada sebuah perjalanan spiritual dan budaya yang berharga. Meski tampak sunyi, setiap sudut masjid ini menyimpan cerita yang hidup bersama masyarakat. Dari inspirasi seorang bupati yang visioner hingga nyata menjadi destinasi wisata religi sekaligus lambang persatuan, masjid ini mengajarkan kita perlunya menjaga dan merawat warisan budaya sebagai pondasi kuat bangsa.

Pesan moral yang dapat diambil adalah, dalam perbedaan dan keunikan, kita menemukan kekayaan yang harus dijaga dengan hati terbuka. Keindahan yang terpancar dari Masjid Cheng Hoo bukan hanya susunan bata dan kayu, tetapi semangat persaudaraan dan toleransi lintas budaya yang mengilhami tiap insan untuk hidup berdampingan dengan damai.

Saat meninggalkan masjid dengan langkah ringan dan pikiran penuh renungan, terasa bahwa keheningan pagi itu bukanlah kekosongan, melainkan ruang bagi jiwa untuk mengenal arti kedamaian sejati. Sebuah pelajaran bahwa di mana pun kita berada, nilai-nilai kemanusiaan dan keharmonisan adalah cahaya yang selalu memberi arah.

Author: Muhammad Rangga W.H.P

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial