Pasuruan, Jawa Timur
Minggu, 7 Juni 2026

Museum Cunggrang Pandaan, Destinasi Edukasi, Wisata Budaya, dan Sejarah yang Wajib Dikunjungi

Portalarjuna.net, Pandaan – Museum Cunggrang Pandaan merupakan destinasi edukasi yang penuh pesona, menawarkan wadah bagi pengunjung untuk menyelami sejarah, budaya, dan nilai-nilai sosial Kabupaten Pasuruan. Diresmikan pada 5 Juli 2019, Nama museum ini diinspirasi dari Prasasti Cunggrang, sebuah artefak kunci yang bertitimangsa 851 Saka atau 929 Masehi penanda yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Pasuruan. Prasasti ini, peninggalan Mataram Kuno, adalah sumbu narasi yang melingkupi seluruh koleksi. museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga ruang hidup yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui koleksi-koleksi penting yang sarat makna, seperti Prasasti Cunggrang dari era Kerajaan Mataram Kuno. Dengan suasana yang nyaman dan aksesibilitas yang mudah, museum ini mengajak setiap pengunjung membuka lembaran sejarah sambil menikmati nilai-nilai kearifan lokal yang memancarkan Sapta Pesona: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan.

Museum Cunggrang menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kabupaten Pasuruan, mulai dari era kuno hingga masa kolonial. Koleksi utama yang menonjol adalah Prasasti Cunggrang, sebuah prasasti batu yang dibuat oleh Mpu Sendok pada tahun 929 Masehi, sebagai wujud penghargaan Kerajaan Mataram kepada masyarakat Dusun Sukci karena semangat gotong royong menjaga pertapaan dan sumber air suci di Gunung Penanggungan. Prasasti ini mencerminkan nilai luhur budaya bersama yang terus hidup dalam masyarakat sekitar, dan menjadi identitas kolektif yang patut dilestarikan. Selain itu, museum menyimpan patung dewa, uang kuno, foto-foto bersejarah, dan benda-benda peninggalan lainnya yang memperkaya wawasan sejarah dan budaya lokal.

Lebih dari sekadar ruang pamer, Museum Cunggrang bertransformasi menjadi destinasi wisata edukasi yang menanamkan nilai-nilai sosial dan budaya kepada pengunjung, terutama generasi muda. “menurut anang hindarto (51) salah satu pengelola museum ini menyediakan fasilitas untuk kegiatan outing class dan kunjungan kelompok, mendukung pembelajaran interaktif yang membangkitkan rasa cinta tanah air, kebanggaan sejarah, dan rasa tanggung jawab menjaga warisan budaya”. Dengan mengusung Sapta Pesona, museum menjamin kenyamanan dan keamanan setiap pengunjung, memfasilitasi suasana belajar yang menyenangkan dan ramah, sehingga wisata budaya ini tidak hanya mengajak untuk mengamati, melainkan juga merasakan dan merefleksikan kekayaan kearifan lokal.

Keberadaan Museum Cunggrang tidak hanya mengisi kekosongan geografis; ia mengisi relung jiwa masyarakat. Secara budaya, museum ini menjadi jembatan tak terputus yang menghubungkan generasi muda dengan akar leluhur mereka. Koleksi seperti keris, umpak, lingga, dan yoni bukan sekadar benda antik; ia adalah simbol dari filosofi hidup Jawa Kuno, mengajarkan harmoni, keseimbangan, dan spiritualitas yang mendalam. Secara sosial, museum ini berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis, membuka akses sejarah bagi semua kalangan tanpa dipungut biaya masuk. Ini adalah wujud nyata dari upaya pelestarian yang inklusif, mengundang komunitas, pelajar, hingga wisatawan mancanegara untuk bersentuhan langsung dengan kekayaan Pasuruan. Ribuan pengunjung yang datang setiap tahunnya, membuktikan bahwa kebutuhan akan edukasi sejarah dan budaya tetap tinggi, menjadikan museum ini sebagai lokomotif wisata berbasis pengetahuan.

Di lantai atas, di antara diorama yang menceritakan pendirian pabrik gula hingga suasana pasar tahun 1930-an, terselip sebuah pelajaran penting: gotong royong dan nilai kemandirian yang telah lama menjadi pilar masyarakat Nusantara. Diorama-diorama tersebut mengajak kita merenung betapa kuatnya peran masyarakat dalam membangun sebuah peradaban, dari masa kerajaan hingga masa kolonial dan kemerdekaan.Mengunjungi Museum Cunggrang adalah pengalaman mendalam yang merefleksikan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan pada sejarah. Koleksi prasasti dan artefak lain tidak hanya menjadi barang antik, tetapi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian budaya dan sejarah untuk generasi sekarang dan mendatang. Pesan moral yang dapat diambil adalah bahwa sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tetapi cermin yang mengajarkan kita bagaimana hidup berdampingan dalam harmoni sosial dan menjaga alam sekitar, sesuai dengan nilai-nilai Sapta Pesona yang mengajak kita untuk menciptakan lingkungan yang aman, sejuk, indah, dan penuh keakraban.

Dengan segala kekayaan nilai edukasi, budaya, dan sosial yang dimilikinya, Museum Cunggrang Pandaan hadir sebagai destinasi yang wajib dikunjungi bagi siapa saja yang ingin memperdalam wawasan sejarah sekaligus merasakan suasana penuh makna. Pengalaman menyusuri museum ini membuka mata dan hati, mengajak setiap pengunjung untuk menghargai warisan leluhur serta bertanggung jawab melestarikan kebudayaan yang membentuk jati diri bangsa. Museum Cunggrang bukan hanya tempat melihat masa lalu, melainkan ruang inspirasi yang menumbuhkan semangat cinta budaya dan kebersamaan dalam kehidupan modern.​

Nilai Pembelajaran utamanya terletak pada pemahaman bahwa identitas sebuah bangsa tidak dapat dipisahkan dari sejarahnya. Dengan mengetahui asal-usul kita bagaimana Pasuruan didirikan, bagaimana masyarakatnya berjuang, dan bagaimana budayanya berkembang, kita akan memiliki landasan yang kokoh untuk melangkah maju. Kita belajar tentang toleransi dari akulturasi budaya, kita belajar tentang kepemimpinan dari kisah raja, dan kita belajar tentang ketekunan dari benda-benda yang bertahan melintasi ribuan tahun.

Author: Muhammad Rangga W.H.P

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial