Portalarjuna.net, Pasuruan – Film Cahaya dari Lensa Bekas merupakan karya film tugas mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Yudharta Pasuruan yang dirilis pada 20/01/2026. Film ini mengangkat tema tentang perjuangan dan harapan dalam meraih mimpi di tengah keterbatasan hidup, yang dibalut oleh kasih sayang keluarga dan keyakinan bahwa nilai sebuah mimpi tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi atau alat yang dimiliki, melainkan oleh ketulusan, keberanian, dan cinta.
Film ini dibintangi oleh Destra Eka Pratama sebagai Rafli, tokoh utama yang digambarkan sebagai sosok anak pemulung yang sederhana, pendiam, namun memiliki kepekaan rasa yang tinggi. Hidup tanpa kehadiran ayah dan dibesarkan dalam keterbatasan ekonomi membuat Rafli tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, bertanggung jawab, dan penuh empati, terutama terhadap ibunya.
Di tengah kerasnya kehidupan kota, Rafli menjalani hari-harinya sebagai anak pemulung. Sejak ditinggal ayahnya, ia hanya hidup berdua bersama sang ibu, mengandalkan rongsokan untuk bertahan hidup. Namun, di balik kesederhanaan itu, Rafli menyimpan mimpi yang tak pernah padam mengabadikan kenangan bersama ibunya, sesuatu yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan.
Suatu hari, Rafli menemukan sebuah kamera rusak di tumpukan sampah. Bagi orang lain, benda itu mungkin tak berarti, namun bagi Rafli, kamera tersebut menjadi simbol harapan. Dengan penuh rasa penasaran, ia mencoba merawat dan menggunakan kamera bekas itu, meski kondisinya jauh dari sempurna.
Perjalanan Rafli semakin bermakna ketika ia bertemu dengan seorang mahasiswa yang memperkenalkannya pada dunia fotografi. Dari pertemuan itu, Rafli belajar bahwa fotografi bukan tentang mahalnya alat, melainkan tentang rasa, kejujuran, dan cerita di balik setiap gambar. Kamera usang itu pun perlahan mengubah cara Rafli memandang hidupnya.
Dengan tekad kuat, Rafli mengumpulkan dan menjual rongsokan hasil memulung demi bisa mengikuti sebuah lomba fotografi. Ia kerap diremehkan karena latar belakangnya dan kamera yang ia gunakan, namun Rafli memilih bertahan. Baginya, lomba itu bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan kesempatan untuk membuktikan mimpi.
Hingga akhirnya, sebuah foto sederhana potret ibunya yang penuh kasih membawa Rafli meraih kemenangan. Karya itu bukan hanya memenangkan lomba, tetapi juga menghadirkan pesan mendalam tentang cinta, pengorbanan, dan harapan. Kemenangan Rafli menjadi bukti bahwa cahaya mimpi dapat lahir dari lensa bekas, selama ada keberanian untuk percaya dan berjuang.
Penutup film “Cahaya dari Lensa Bekas” menampilkan simbol cahaya yang memantul dari lensa kamera usang milik Rafli sebagai representasi harapan, ingatan, dan luka hidup yang perlahan disembuhkan. Cahaya tersebut menegaskan bahwa kemiskinan, keterbatasan, dan stigma sosial tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga membentuk batin dan mimpi seseorang sejak usia dini.
Film ini tidak bermaksud meromantisasi kemiskinan, melainkan menjadi refleksi sosial tentang ketimpangan dan rendahnya akses kesempatan bagi anak-anak dari kalangan marginal. Melalui perjalanan Rafli, film ini mengajak penonton untuk lebih peka terhadap mimpi kecil yang sering diabaikan, serta menegaskan bahwa dukungan, empati, dan kepercayaan dapat menjadi cahaya yang menumbuhkan harapan, bahkan dari sebuah lensa bekas.
Author : Tim Produksi Film Cahaya dari Lensa Bekas











