Portalarjuna.net, Pasuruan – Tren mendaki gunung yang didorong oleh impuls berbagi foto dan video di media sosial kerap membawa konsekuensi pada aspek keselamatan pendaki. N (21) Seorang pendaki yang diwawancarai menyebut, praktik kurang siap dan ambisi mengambil konten di titik berisiko sudah sering dijumpai di lapangan.
Dalam wawancara, N (21) yang kerap melakukan pendakian mengatakan bahwa ia cukup sering menjumpai rekan pendaki yang tampak kurang mempersiapkan diri. “Lumayan sering,” ujarnya singkat ketika ditanya frekuensi temuan itu.
Ketidakmampuan menyiapkan perlengkapan dasar menjadi gambaran umum yang muncul dari pengamatan di lapangan. Menurut N (21), contoh persiapan yang tidak memadai antara lain kurangnya matras, persediaan obat-obatan, serta makanan dan minuman yang cukup. “matras. Obat obat an. Minuman dan makanan,” kata dia, merujuk pada peralatan dan logistik yang sering terabaikan.
Praktik mengambil foto atau video di titik-titik berbahaya juga sudah pernah disaksikan N (21). Ia mencontohkan, beberapa pendaki mengambil konten di lokasi seperti batuan dan pohon yang berdekatan jurang. “pernah . Misal nya di batuan dan di pohon yang dekat sama jurang,” ujarnya.
Dampak dari perilaku tersebut bukan sekadar risiko individu. N (21) menuturkan pernah menyaksikan kasus di mana seorang pendaki mengalami kesulitan turun karena meremehkan medan, sehingga membutuhkan waktu lebih lama dan menimbulkan tekanan bagi rekan tim atau petugas penolong jika kondisi kritis terjadi. “Pernah. Pada saat itu ada perempuan yang meremehkan medan gunung kawi, pada akhirnya dia tidak bisa turun karena track nya cukup ekstrem,” kata N (21).
Menurut N (21), rombongan yang naik tanpa persiapan memadai tidak hanya menempatkan diri mereka dalam bahaya, tetapi juga memberatkan pendaki lain dan tim penyelamat. “menyusah kan karena keadaan di gunung sangat berbeda dengan keadaan di tempat biasa,” ujarnya, menggambarkan kesulitan logistik dan koordinasi ketika terjadi insiden.
Beberapa risiko yang kerap diabaikan oleh pendaki yang termotivasi oleh tren atau rasa takut ketinggalan (FOMO) meliputi hipotermia, kehabisan bekal makanan dan minuman, serta kelelahan ekstrem. “resiko yang terjadi hipotermia. Kehabisan bekal makan dan minum. ketidak kuatan karena capek,” kata N (21), merangkum ancaman-ancaman utama yang dapat berujung pada kondisi darurat.
Sebagai upaya pencegahan, N (21) mengimbau masyarakat yang ingin mendaki agar melakukan riset medan dan estimasi waktu naik-turun terlebih dahulu, serta membawa perbekalan yang cukup. “mencari tahu medan dan estimasi kepuncak dan turun gunung di internet. Membawa perbekalan lebih dari cukup supaya tidak kehabisan,” pesannya.
Author: Hikmah Cahyo S.










