Portalarjuna.net, Pasuruan – Mahasiswa semester 3 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Yudharta Pasuruan kembali menunjukkan kreativitasnya melalui karya audio visual. Kali ini, mereka menghadirkan sebuah short film berjudul Mimpi yang Melawan Tradisi yang mengangkat isu budaya patriarki dalam lingkup keluarga serta perjuangan perempuan muda dalam menentukan masa depannya.
Short film Mimpi yang Melawan Tradisi merupakan karya film fiksi yang merefleksikan realitas sosial masyarakat Indonesia, di mana nilai patriarki masih kuat memengaruhi relasi dalam keluarga. Film ini menyoroti bagaimana pola pikir patriarkal yang diwariskan secara turun-temurun dapat membatasi kebebasan perempuan, khususnya dalam pendidikan dan pilihan hidup.
Cerita berpusat pada tokoh Vio, seorang remaja perempuan berusia 17 tahun yang memiliki mimpi besar untuk menjadi seorang fashion designer. Namun keinginannya tersebut mendapat penolakan keras dari ayahnya, Wirya, seorang ayah tunggal yang bersikap otoriter dan memegang nilai patriarki kuat akibat trauma masa kecil yang ia alami. Konflik ayah dan anak ini menjadi gambaran nyata benturan nilai antara generasi lama dan generasi muda.
Kehadiran tokoh Mutia, nenek Vio, menjadi elemen penting dalam alur cerita. Sebagai perempuan yang pernah menjadi korban patriarki, Mutia berperan sebagai penengah yang berusaha membuka kesadaran Wirya agar tidak mewariskan luka dan penindasan yang sama kepada generasi berikutnya. Film ini tidak hanya menyajikan drama keluarga, tetapi juga menghadirkan pesan reflektif tentang empati, kesadaran, dan perubahan pola asuh.
Dari sisi pemeranan, short film ini dibintangi oleh:
Ridwan Kholid sebagai Wirya (ayah Vio),
Wahyu Fitri Ega Okta Ramadhani sebagai Vio,
Dahlia Anis Widowati sebagai Mutia (nenek Vio),
Maulidi Fahmi sebagai ayah Wirya,
Hamim sebagai Wirya kecil.
Para pemeran tersebut berhasil membangun karakter yang kuat sehingga konflik emosional dalam film tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Mimpi yang Melawan Tradisi mengisahkan Vio, seorang siswi SMA yang hidup bersama ayah dan neneknya setelah ibunya meninggal dunia. Vio memiliki bakat dan minat besar di dunia fashion, namun keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di jurusan fashion design dianggap tidak pantas oleh ayahnya. Diam-diam, Vio menyusun portofolio dan mendaftar beasiswa hingga akhirnya diterima di universitas impiannya. Keputusan tersebut memicu konflik besar dalam keluarga, hingga akhirnya membuka ruang kesadaran bagi sang ayah untuk melepaskan kontrol dan mendukung mimpi anaknya.
Short film Mimpi yang Melawan Tradisi resmi dirilis pada 04/02/2026 dan dapat disaksikan melalui kanal YouTube Yudharta TV. Melalui film ini, para mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Yudharta Pasuruan berharap dapat mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih kritis terhadap budaya patriarki serta berani mendukung kesetaraan dan kebebasan dalam menentukan masa depan.
Author : Tim Produksi Film Mimpi yang Melawan Tradisi











