PortalArjuna.net, Beji – Warga di sekitar saluran air yang mengalir di belakang deretan rumah di Dusun Tanjung-Kepuhrejo, Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, mengeluhkan tanda-tanda pencemaran pada 9 Februari 2026. N (21) Seorang warga mengatakan warna air yang berubah, serta banyak sampah berserakan, menjadi bukti awal bahwa kualitas saluran menurun dan berdampak pada lingkungan sekitar.
Menurut N (21), perubahan itu dapat dilihat dari kondisi fisik air dan sampah yang menumpuk. “kondisi sungai saat ini mulai tercemar bisa dilihat dari warna air nya dan banyak juga sampah yg berserakan di Sungai,” ujarnya.
N (21) menuturkan perubahan yang disaksikannya mencakup perubahan warna air, menurunnya populasi ikan, bau tidak sedap, dan adanya sampah yang berserakan. “warna , populasi ikan yang ada disungai, bau dan sampah yang berserakan,” kata dia.
Jenis sampah yang paling sering terlihat, menurut pengamatan warga, adalah sampah plastik dan pakaian bekas. Pada musim penghujan, aliran relatif deras sehingga sampah yang berada di bantaran sering terbawa arus; pada saat tidak hujan, aliran lebih tenang tetapi tumpukan sampah tetap terlihat di beberapa genangan. Di musim kemarau, N (21) menilai kondisi bisa lebih parah karena genangan yang tak mengalir menimbulkan bau. “genangan penuh dengan sampah dan bau busuk,” ujarnya, dan menggambarkan warna air yang diamati sebagai “warnanya kebiru biruan.”
Dampak yang dirasakan warga, kata N (21), antara lain mengganggu aktivitas para petani yang biasa melintasi atau memanfaatkan sumber air di sekitar serta menimbulkan keluhan kesehatan lingkungan. “Sangat mengganggu terutama petani yg mau lewat ke sungai tersebut dan merusak perairan para petani,” ujarnya. Ia juga menambahkan keluhan terkait vektor penyakit: “Keluhan semakin banyak nyamuk terutama pada saat musim kemarau ketika sungai tidak mengalir sehingga banyak sekali genangan.”
Soal penyebab, N (21) menunjuk pada kebiasaan pembuangan sampah serta keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah di wilayah tersebut. Menurutnya, kurangnya edukasi dan sarana pembuangan menjadi faktor pemicu. “mungkin kurangnya edukasi dan tempat saranah pembuangan sampah yg tepat,” ucapnya. Ia menilai fasilitas yang ada saat ini belum memadai sehingga warga masih membuang sampah ke saluran. “Belum memadahi. Ini penyebab mayarakat masih membuang sampah di Sungai,” kata N (21).
Sebagai langkah penanganan, warga mengusulkan penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan upaya penelusuran sumber pencemaran, termasuk kemungkinan limpahan dari aktivitas lain yang perlu ditindaklanjuti. “memberi fasilitas pembuangan sampah untuk masyarakat. Dan mencari penyabab pencemaran seperti di industri atau yang lain nya,” ujar N (21), seraya menambahkan harapannya: “segera mencari penyebab pencemaran. Dan mengedukasi masayarakat supaya tidak membuang sampah disungai dan memberikan fasilitas pembuangan .”
Author: Hikmah Cahyo S.










