Portalarjuna.net, Tosari – Kawasan hinterland Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dipilih menjadi lokasi pelaksanaan ASPIKOM JATIM Impact Collaboratory 2026, sebuah program KKN kolaboratif yang melibatkan mahasiswa dan dosen Ilmu Komunikasi dari berbagai perguruan tinggi anggota ASPIKOM Jawa Timur. Program bertema “Connecting Campus, Community, Culture and Industry” ini akan berlangsung pada 17 Juli–17 Agustus 2026 dengan fokus pada penguatan komunikasi pariwisata berkelanjutan berbasis kearifan lokal masyarakat Tengger.
Pemilihan Tosari bukan tanpa alasan. Sebagai kawasan penyangga destinasi wisata Bromo, wilayah ini memiliki kekayaan alam, budaya, dan tradisi masyarakat Tengger yang menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Melalui pendekatan kolaboratif, mahasiswa dan dosen akan mendampingi masyarakat dalam pemetaan potensi desa, penguatan branding destinasi, promosi digital, dokumentasi budaya, hingga edukasi komunikasi risiko bagi kawasan wisata.
Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa rencana kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan masyarakat pelaku wisata. Ketua SANJA Desa Tosari, Karyadi, menilai program ini menjadi peluang penting untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan desa wisata.
“Kami sangat senang dan menyambut baik kegiatan ini. Banyak hal yang bisa dilakukan bersama, mulai dari penguatan kapasitas masyarakat, branding desa wisata, promosi digital, hingga pengemasan potensi budaya agar lebih dikenal luas,” ujarnya.
Ketua Departemen Penelitian, Pengabdian, dan Publikasi Ilmiah ASPIKOM Jawa Timur, Nurudin, menjelaskan bahwa program ini merupakan implementasi semangat Kampus Berdampak yang mempertemukan sumber daya perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Menurutnya, kawasan Tosari memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui kolaborasi antara kampus, pemerintah, komunitas, media, dan dunia usaha sehingga mampu melahirkan model pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis budaya lokal.
Senada dengan itu, Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat ASPIKOM Jawa Timur, Zainul Ahwan, menegaskan bahwa keberhasilan desa wisata tidak cukup hanya bertumpu pada keindahan alam dan kekayaan budaya yang dimiliki. Potensi tersebut harus mampu dikemas dan dikomunikasikan secara strategis agar memiliki nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu, ASPIKOM JATIM Impact Collaboratory 2026 akan mendorong penguatan branding desa wisata, pengembangan media digital, dokumentasi kearifan lokal masyarakat Tengger, serta peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu menjadi pelaku utama pembangunan pariwisata berkelanjutan.
“Potensi yang dimiliki masyarakat harus mampu dikomunikasikan secara efektif sehingga dapat meningkatkan daya saing desa wisata. Kami berharap program ini menjadi model kolaborasi antara kampus dan masyarakat yang tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pengembangan desa wisata di kawasan Tosari dan hinterland TNBTS,” pungkasnya.
Melalui program ini, ASPIKOM Jawa Timur berharap tercipta ruang belajar bersama yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat lokal. Dengan demikian, desa wisata di kawasan Tengger tidak hanya berkembang sebagai destinasi unggulan, tetapi juga mampu menjaga identitas budaya serta mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Author: Muh. Iqbal Sya’bani






