Habis terang terbitlah gelap, Sebuah opini di hari Kartini

""

kartini-baru1-620x330Portal Arjuna Jatim-Dewasa ini istilah Emansipasi begitu akrab dan popular ditelingah, khususnya kaum wanita dengan menajadikan R.A Kartini sebagai symbol serta pahlawan emansipasi. selama ini dan mungkin seterusnya buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” (“Door Duisternis Toot Licht.”) yang diterjemahkan oleh Armyn Pane dari kumpulan surat-surat Kartini kepada Ny. Abendanon di negeri Belanda. Menjadi salah satu pedoman untuk mengerti dan memahami bagaimana sosok wanita yang disorakan sebagai pahlawan kebangkitan nasioanal, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, sekaligus memperingati tanggal lahir 21 april sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Banyak orang memaknai kumpulan surat-surat kartini yang tercover dalam buku yang judulnya terinspirasi dari ayat al-qur’an “Mina dhulimati ila nuur”, dengan hanya sebatas menyemangati kaum wanita dalam meraih persamaan hak maupun persamaan derajat, dalam buku tersebut sebenarnya tidak sebatas dalam konteks emansipasi perempuan tetapi, memperjuangkan hak bangsa Indonesia untuk memperoleh kemandirian, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dan menuju peradaban manusiawi. Di samping didalamnya termuat banyak curahan hati kartini, salah satunya adalah suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menuliskan tentang agama yang ia yakini, bahwa ia kurang begitu bebas gerak dalam mempelajari memahami agama nenek moyangnya tersebut, bahkan dalam mempelajari kitab sucinya ia kesulitan karena tidak menguasai bahasanya serta harapannya agar kitab suci keyakinannya dapat ditranslite kedalam bahasa keseharian. Dewasa ini kegelapan masa kartini telah usai cahaya keilmuan telah mewarnai dunia, kita bebas bergerak mempelajari apapun dimanapun dan kapanpun, termasuk mempelajari agama keyakinan masing-masing, kita yang merasa disulitkan dengan bahasa asing kini kitab sucipun telah banyak diterjemahkan ke-lain bahasa. Mirisnya berapa jumlah orang yang senantiasa istiqomah membaca dan memahami kandungan kitab sucinya, berapa pemuda seusia kartini kala, yang mempunyai semangat tinggi dalam mendalami spiritul keagamaan, inilah salah satu maksud penulis sebagai habis terang terbitlah gelap.

Hampir serupa, dibidang pendidikan kartini yang berdara biru, memang begitu perihatin

Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”

Kemudian dalam surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.

Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis;

Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis;

Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Melalui Mbah Sholeh itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat berkesan dinuraninya yaitu:

Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqarah: 257).

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.