Pasuruan, Jawa Timur
Minggu, 26 April 2026

Terjebak Dunia Digital: Bahaya Media Sosial bagi Kehidupan Gen Z

Perkembangan teknologi digital menjadikan media sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi Generasi Z. Generasi yang tumbuh di era internet ini memanfaatkan media sosial tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk mencari informasi, hiburan, hingga mengekspresikan diri. Platform seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan Facebook telah menjadi ruang interaksi yang sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, penggunaan media sosial yang berlebihan juga membawa dampak negatif yang semakin mendapat perhatian dari peneliti dan pemerhati pendidikan. Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah menurunnya konsentrasi belajar akibat terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk mengakses media sosial.
Selain itu, media sosial juga memicu fenomena perbandingan sosial. Banyak pengguna membagikan momen terbaik dalam hidup mereka, seperti pencapaian, liburan, atau gaya hidup menarik. Tanpa disadari, hal ini membuat sebagian orang membandingkan kehidupannya dengan apa yang terlihat di media sosial, yang sering kali tampak lebih sempurna.
Penelitian Waseso dan Wibowo (2025) menunjukkan bahwa sekitar 55 persen responden Generasi Z pernah merasa kurang percaya diri setelah melihat unggahan orang lain. Perasaan ini muncul karena mereka merasa kehidupannya tidak sebaik yang ditampilkan di dunia digital.
Fenomena lain yang sering terjadi adalah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari aktivitas atau pengalaman orang lain. Akibatnya, banyak pengguna merasa perlu terus memeriksa media sosial agar tidak ketinggalan informasi atau tren terbaru.
Menurut penelitian Febrianti dan rekan-rekan (2024), sekitar 70 persen remaja merasa perlu membuka media sosial secara berkala untuk mengikuti perkembangan di lingkungan pertemanan mereka. Kebiasaan ini membuat sebagian pengguna sulit melepaskan diri dari media sosial dan berpotensi menimbulkan ketergantungan.
Dampak lainnya terlihat pada kualitas interaksi sosial di dunia nyata. Banyak generasi muda yang lebih sering berkomunikasi melalui media sosial dibandingkan berbicara langsung dengan orang di sekitarnya.
Di sisi lain, media sosial juga rentan menjadi tempat terjadinya cyberbullying atau perundungan digital. Komentar negatif, hinaan, hingga penyebaran informasi yang merugikan dapat berdampak serius pada kondisi psikologis korban.
Fenomena yang juga mulai muncul adalah kecenderungan melakukan self-diagnosis terhadap kesehatan mental berdasarkan informasi dari media sosial. Padahal, tidak semua informasi di internet berasal dari sumber yang terpercaya.
Penelitian Nahari dan Sumardjijati (2026) menunjukkan bahwa sebagian pengguna pernah menilai kondisi psikologisnya sendiri setelah melihat konten kesehatan mental di media sosial. Hal ini berisiko menimbulkan kesalahpahaman, karena diagnosis seharusnya dilakukan oleh tenaga profesional.
Meski demikian, media sosial tidak selalu berdampak negatif. Jika digunakan secara bijak, platform ini dapat menjadi sarana edukasi, pengembangan kreativitas, serta penyebaran informasi yang bermanfaat.
Penelitian Purnamasari dan rekan-rekan (2024) menekankan pentingnya literasi digital bagi generasi muda. Literasi ini membantu pengguna dalam memilah informasi, mengontrol waktu penggunaan, serta menjaga kesehatan mental di era digital.
Pada akhirnya, media sosial memiliki dua sisi. Jika digunakan secara berlebihan, dampaknya bisa merugikan. Namun, dengan penggunaan yang bijak dan seimbang, media sosial justru dapat mendukung perkembangan Generasi Z di era digital.

author: Danendra Ali kamal

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tulisan Terakhir

Advertorial