Puluhan Mahasiswa Bawean Demo di Depan Kantor Kecamatan Sangkapura

""

Gambar : Mahasiswa Bawean saat demo di depan Kecamatan Sangkapura (8/06) 

PortalArjuna.net-Gresik, Pagi ini sekitar pukul 08.00 WIB, mahasiswa Bawean menggelar aksi demo di depan Kantor Kecamatan Sangkapura. Aksi tersebut merupakan buntut lolosnya 1 pasien positif Coivd-19 yang masuk ke pulau Bawean beberapa hari lalu.

Mahasiswa menduga Dishub Gresik telah lalai dalam melaksanakan tugasnya menerapkan protokol kesehatan dalam memberikan izin kepada calon penumpang yang ingin menyebrang. Sehingga menyebabkan masyarakat bawean menajadi lebih rawan tertular virus corona.
Hal itu terbukti dengan adanya penambahan 1 pasien positif Covid-19 masuk ke pulau Bawean, yang lolos saat dilakukan proses screening di pelabuhan Gresik.

Dalam hal ini, Mahasiswa mendesak kepada Pemerintah setempat dengan melakukan aksi yang ditujukan kepada KSOP Gresik, DPR, Bupati, Dinas Perhubungan Gresik agar memenuhi empat tuntutannya diantaranya,

1. Stop Penumpang Gresik-Bawean
2. Memperbolehkan Kapal berlayar hanya membawa logistik
3. Meminta ketegasan Pemeritah Kabupaten dan Dishub Gresik dalam melaksanakan peraturan
4. Mempertanyakan kesiapan tenaga medis di Pulau Bawean

Selain itu, aksi demo tersebut juga merupakan salah satu bentuk keresahan masyarakat Bawean terhadap peraturan pemberlakuan penumpang masuk pulau Bawean.

Salah satu Mahasiswa demo pagi tadi, Habiburrahman menduga adanya kecurangan dalam melakukan pendataan penumpang kapal Gresik Bawean selama ini.

“Keberatan kita itu sebenarnya ketika kapal masih memuat penumpang dengan alasan masyarakat Bawean masih banyak yang tertahan di Gresik,” ungkap Habib.

Timbulnya dugaaan tersebut berawal dari adanya temuan data jumlah penumpang tidak sesuai dengan realita penumpang yang sedang berlayar. Terdapat penyelewengan data penumpang beberapa waktu lalu.

“Dari data di lapangan ada beberapa temuan penyelewengan data penumpang terkait adanya surat keterangan palsu. Contoh tempo hari pada saat kita cek jumlah penumpang yang terdata itu hanya belasan, namun saat kita hitung sampe 92 orang lebih,” tegas Habib.

Selain permasalahan data surat keterangan palsu tentang jumlah penumpang kapal, para mahasiswa juga menduga ada surat palsu tentang identitas penumpang.

“Kemudian ada beberapa surat juga yang dikeluarkan Dishub kemaren bahwa ada penumpang dengan keterangan pengasuh pondok pesantren, setelah kita lakukan pengecekan ternyata bukan” ungkap Habib.

Selain itu, Mahasiswa juga mempertanyakan bagaimana kesiapan tenaga medis di pulau Bawean dalam menghadapi pasien positif Covid-19. (Asyrafi)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.